hukum epik oleh Axel Olrix dalam cerita raja negeri raksasa pringgadani

Posted by joko yulianto Selasa, 19 Juni 2012 1 komentar

Raja Negeri Raksasa Pringgadani
Oleh: joko yulianto
Sinopsis Cerita
Gatutkaca adalah putra dari salah satu tokoh Pandawa yang mempunyai kuku pancanaka yaitu Bima alias werkudara dengan seorang putri dari Negeri raksasa Kerajaan Pringgadani sekaligus penguasa hutan yaitu Dewi Arimbi. Gat yang berarti bulat, dan Utkaca yang berarti kepala, nama Gatutkaca diberikan karena kepalanya saat baru dilahirkan bulat seperti kendi (tempat air minum dari tanah liat), kelahiran Gatutkaca diiringi Kejadian-kejadian aneh yang selalu mengiringi kelahiran Si calon manusia setengah raksasa yang bisa terbang tanpa sayap, dan nantinya mendapat julukan “otot kawat tulang besi”.(1)
Setelah gatotkaca Antaranya, sudah setahun dari masa kelahiran bayi Gatotkaca yang kala itu bernama Jabang Tutuka, tali pusarnya tak bisa dipotong, sudah berbagai macam alat pemotong digunakan namun tak ada satupun yang berhasil. Raden Arjuna sebagai paman ikut prihatin dengan keadaan keponakanya memutuskan untuk bersemedi mencari petunjuk Sang Dewata: Arjuna: “Kakang Bima… aku mohon izin untuk pergi bersemedi memohon petunjuk Sang Batara, agar tali pusat Jabang Tutuka bisa dipotong” arjuna memohon izin ke Bima.(2)
Arjuna pun berangkat bersemedi, Batara Guru yang mengetahui kejadian itu mengutus Batara Narada untuk turun ke bumi menemui Arjuna dan memberikan Pusaka Kontawijaya untuk memotong tali pusar si jabang tutuka. Malang, pada saat yang sama Adipatih karna pada saat yang sama juga sedang bertapa mencari pusaka, dengan bantuan ayahnya Batara Surya mendadak langit menjadi gulita, karena sosoknya yang mirip dengan Arjuna Batara Narada pun memberikan Pusaka Kontawijaya pada Karna.
Setelah beberapa waktu batara narada merasa gelisah seakan aka ada sesuatu yang salah pada dirinya, dan ternyata setelah diusut dan direnungkan Batara Narada segera menyadari kesalahanya dan setelah bertemu Arjuna dia mengatakan kalau ia salah memberikan pusakanya pada Adipati Karna.
Arjuna kemudian mencegat Adipati Karna terjadilah duel sengit dua kesatria memperebutkan pusaka. Nasib mujur, Karna berhasil meloloskan diri membawa Pusaka yang nantinya akan menjadi senjata pembunuh bagi Gatotkaca, sedangkan Arjuna hanya berhasil membawa warangka-nya (Sarung-nya). Namun sarung pusaka kontawijaya yang terbuat dari kayu mastaba pun bisa dipergunakan untuk memotong tali pusar Gatotkaca, hanya saja keajaiban terjadi wadah pusaka itu masuk kedalam perut Si Jabang Gatotkaca, menurut Kresna itu akan menambah kekuatanya. (pertempuran pertama)
Kocap kacarita Si Jabang Putut Tetuka (Gatotkaca Bayi) dipinjam Batara Narada, untuk menghadapi Patih Sekipu dari Kerajaan Trabelasuket yang kala itu sedang mengobrak-abrik kayangan, karena Niatnya untuk melamar Bidadari Dewi Supraba ditolak oleh Hyang Pramesti Batara Guru, atas perintah rajanya Prabu kalapracona.
Aneh. Semakin patih sekipu menghajarnya bayi Arimbiyatmaja (Nama lain Gatokaca) malah semakin kuat, dengan alasan tidak tega patih sekipu menyerahkan kembali Gatotokaca bayi pada Batara Narada dengan alasan akan kembali melawan Gatotkaca setelah ia dewasa, alas an untuk menutupi rasa malunya karena tidak dapat mengalahkan anak bayi.
Gatotkaca kemudian dijeburkan ke kawah Candradimuka di Gunung Jamurdipa, Para Dewa menaburi Jabang Tetuka dengan berbagai senjata pusaka, alih-alih mati dalam panasnya kawah candradimuka, Jabang tetuka keluar menjadi kesatria dewasa dan semua pusaka yang dilemparkan para dewa sudah melebur dan bersatu dalam raganya, itulah kenapa Gatotkaca dijuluki “otot kawat tulang besi” karena tubuhnya tak bisa terlukai oleh senjata apapun.
Lalu sesuai janjinya “janji akan bertarung dengan gatotkaca setelah gatotkaca dewasa” berlangsunglah lagi perang tanding dengan sekipu, tidakberlangsung lama dengan sekali gigit patih sekipu tewas. Para pandawa dan sri kresna yang juga datang ke kahyangan memberi nasihat kepada gatotkaca untuk tidak meneruskan perangai raksasanya, bertarunglah secara kesatria, dalam upacara tolak bala singkat gigi taring gatotkaca dipotong. (pertarungan ke3)
Kahyangan bersuka cita, semua Dewa dan Dewi bergembira, Batara narada kemudian meruwat jabang tetuka dan mengganti namanya menjadi Gatotkaca, dan sebagai cinderamata rasa terima kasih Batara Guru atau Sang hyang giri natha, memberikan tiga pusaka :
Pertama Caping Basunanda, yang membuat pemakainya tak bisa kena hujan dan terkena panas, kalau jaman sekarang seperti payung yang multifungsi.
Kedua, Kotang Antrakusuma, bentuknya seperti rompi yang membuat pemiliknya bisa terbang tanpa sayap dan kala malam berkobar-kobar sinarnya saat terbang.
Ketiga, Terompah Padakacarma, ini adalah sepatu yang bisa menetralisir energi negtif, jadi tempat yang angker akan terasa biasa-biasa saja, karena jin dan setan akan lari terbirit-birit melihat sepatu Padakacarma
Setelah semuanya selesai gatotkaca bersama ayahnya aden Werkudara alias bima dan keempat pamanya serta Sri Kresna turun ke Bumi. Di bumi gatotkaca menjalani hidup sebagai kesatria, dia sangat mencintai saudara sepupunya Abimanyu anak dari Prabu Arjuna, kemana abimanyu pergi Gatotkaca selalu mengikuti, pengintai terbang diatasnya.
Pada saat pamanya Prabu arjuna mengadakan sayembara yang memperebutkan anaknya Dewi Pregiwa, gatotkaca mengikuti dan berhasil mengalahkan berpuluh kesatria pilih tanding, setelah berhasil mengalahkan Laksmana Mandrakumara yang terhitung masih saudaranya sendiri karena ia anak dari Prabu Duryudana saudara dari pihak kurawa. Setelah memenagkan sayembara itu ahirnya gatot kaca menikah dengan saudara sepupunya sendiri dewi pregiwa, gatotkaca mempunyai anak Sasikirana. Gatotkaca benar-benar menjadi kesatria pilih tanding, dikatakan kekuatanya akan meningkat berlipat-lipat kala malam menjelang karena ajian gelap sakyuto yang dimilikinya.
Setelah ibudanya Arimbi merasa anaknya sudah cukup dewasa akhirnya gatutkaca diangkat sebagai Raja di Negeri Raksasa Pringgadani, Terkecuali Brajadenta, kesemua pamanya Brajamusti, Brajalamadan, Brajawikalpa, dan Kalabendana semua sangat menyayangi Gatotkaca, dan Kalabendanalah yang paling Gatutkaca sayangi, meskipun Paklik Raksasanya ini berbentuk bulet , kerdil, tapi hatinya mulia, dan polos.
Brajadenta yang sudah terkena hasutan patih sengkuni bahwa seharusnya tahta Pringgadani jatuh ke dirinya bukan ke tangan keponakanya yang masih seumur jagung dalam ilmu pemerintahan. Akhirnya memberontak Brajamusti diperintahkan untuk mencegah dan menyadarkan saudaranya, terjadilahperang tanding dimana keduanya sama-sama meninggal, arwah brajadenta merasuk ke tangan kiri, dan arwah brajamusti masuk ke tangan kanan, maka makin bertambah pula kekuatan Gatotkaca.
Prabu Gatotkaca memerintah Negeri Raksasa Pringgadani dengan arif dan bijaksana, sampai tercapailah kemakmuran di Negerinya. Negeri yang letaknya berada ditengah-tengah hutan itu menjadi Negeri yang makmur dan mahsyur, disegani oleh Negeri lainya karena mempunyai pemimpin yang berwibawa dan sakti mandraguna.
Alur Cerita
  1. Misteri kelahiran gatotkaca
  2. Perjuangan memotong tali pusar gatotkaca
  3. Pertarungan arjuna merebutkan Pusaka Kontawijaya
  4. Pertarungan pertama gatotkaca dengan patih skipu
  5. Pertarungan kedua gatotkaca melawan patih skipu
  6. Pertarungan gatotkaca melawan para kesatria dalam sayembara
  7. Pengangkatan gatotkaca menjadi raja peringgadani
Dari alur cerita diatas  maka dapat digambarkan menjadi gambar berikut ini.
 




Awal                                     tengah                                         akhir
Gambar pola alur gatotkaca sampai menjadi raja pringgadani.
Berdasarkan gambar di atas alur cerita gatotkaca raja pringgodani ini merupakan alur maju. Pentahapan kejadian yang dimulai dari peristiwa awal (menceritakan proses kelahiran gatotkaca), tengah (pertarungan-pertarungan gatotkaca) dan akhir (menjadi orang yang disukai dan diangkat menjadi raja). Karena alur cerita diatas berurutan mulai dari proses kelahiran gatotkaca dan sampai gatotkaca diangkat menjadi raja pringgadani diceritakan secara berurutan oleh Nurgiantoro (2010: 151) disebut sebagai plot kronologis.
Dalam cerita di atas yang merupakan peristiwa-peristiwa awal adalah peristiwa-peristiwa yang dibritanda pada alur nomor 1 sampai dengan 2, peristiwa tengah ditandai pada alur nomor 3 sampai dengan alur nomor 6 , sedangkan peristiwa akhir ditandai dengan alur nomor 7, demikianlah gambaran alur cerita raja peringgadani.
Hukum Epik
Axel Olrix dalam Danandjaja ( 1984) sebagaimana dikutip Sudikan (2001:72-73) menyatakan bahwa struktur atau susunan cerita prosa rakyat terikat oleh hukum-hukum yang sama yang olehnya disebut sebagai hukum epos ( epic laws). Telah dijelaskan di bagian atas bahwa terdapat 13 hukum epik yang dikemukakan oleh Axel Olrix.
Dalam mkalah ini akan dikemukakan beberapa data yang menunjukkan hukum-hukum epik ala Axel Olrix tersebut.
  1. Hukum Pembuka Penutup
Sudikan (2001:72) menjelaskan hukum pembuka penutup sebagai suatu cerita rakyat  tidak akan dimulai dengan suatu yang tiba-tiba, tidak juga berakhir dengan mendadak. Artinya cerita berlasung melalui tahapan-tahapan tertentu.  Tahap tersebut merupakan rangkain kejadian yang saling berhubungan satu sama yang lain. Tahap cerita bisa saja terdiri atas tahap awal, tahap tengah, dan tahap akhir. Tahap awal merupakan pendahuluan cerita. Dalam tahap ini pencerita memperkenalkan tokoh cerita. Tahap tengah merupakan kejian yang sering disebut sebagai puncak cerita. Di dalam tahap inilah terjadi peristiwa yang disebut sebagai konflik. Dan tahap akhir merupakan penyelesaian cerita.
Dalam cerita gatotkaca raja pringgadani ini hukum pembuka dapat dilihat dari cerita proses kelahiran gatotkaca, hokum pembuka terdapat pada data sebagai berikut:
“Gatutkaca adalah putra dari salah satu tokoh Pandawa yang mempunyai kuku pancanaka yaitu Bima alias werkudara dengan seorang putri dari Negeri raksasa Kerajaan Pringgadani sekaligus penguasa hutan yaitu Dewi Arimbi. Gat yang berarti bulat, dan Utkaca yang berarti kepala, nama Gatutkaca diberikan karena kepalanya saat baru dilahirkan bulat seperti kendi (tempat air minum dari tanah liat), kelahiran Gatutkaca diiringi Kejadian-kejadian aneh yang selalu mengiringi kelahiran Si calon manusia setengah raksasa yang bisa terbang tanpa sayap, dan nantinya mendapat julukan (otot kawat tulang besi)”
Petikan di atas merupakan paragraf pembuka gatotkaca raja pringgadani. Paragraf ini berisi perkenalan. Pencerita menjelaskan siapa tokoh-tokoh yang akan menjalankan cerita. Di mana tokoh itu berada dan apa yang dilakukannya. Dalam penggalan tersebut terlihat adanya tokoh gatotkaca, ayah gatotkaca dan keluarga gatotkaca Dalam penggalan ini  juga ditemukan kedudukan cerita atau sering disebut sebagai setting. Penggalan di atas dilanjutkan dengan memperkenalkan  bagaimana tokoh-tokoh itu bertindak dalam sebuah cerita.
Sedangkan hukum penutup dapat dicermati penggalan berikut ini.
“Prabu Gatotkaca memerintah Negeri Raksasa Pringgadani dengan arif dan bijaksana, sampai tercapailah kemakmuran di Negerinya. Negeri yang letaknya berada ditengah-tengah hutan itu menjadi Negeri yang makmur dan mahsyur, disegani oleh Negeri lainya karena mempunyai pemimpin yang berwibawa dan sakti mandraguna.”
                             Berdasarkan informasi diatas kita bisa melihat penutupan cerita gatotkaca raja pringgadani ini diahiri dengan kebahagiaan.
  1. Hukum Pentingnya Tokoh yang Keluar Pertama dan yang Keluar Terakhir.
Menurut Sudikan (2001:73) yang dimaksud hukum pentingnya tokoh yang keluar pertama dan yang keluar terakhir adalah jika ada sederet orang atau kejadian yang muncul atau terjadi, maka yang terpenting akan ditampilkan terdahulu, walaupun yang ditampilkan terakhir atau kejadian yang terjadi kemudian adalah yang akan mendapat simpati atau perhatian cerita itu. Maknanya adalah tokoh yang muncul pertama adalah tokoh yang lebih penting dalam cerita. Tokoh dalam hal ini dapat berupa orang atau bentuk lain yang dapat memainkan  cerita. Indikator penting dalam hal ini adalah tokoh tersebut yang akan ditonjolkan oleh cerita. Penonjolan dapat berupa sering dibahas, menjadi perhatian tokoh lain atau yang menjadi pusat masalah dalam seluruh cerita.
Dalam cerita gatotkaca raja pringgadani ini hukum tokoh yang keluar pertama dapat dilihat dari cerita gatotkaca yang masih kecil dihadapkan dengan, hokum tokoh yang keluar pertama terdapat pada data sebagai berikut:
“Kocap kacarita Si Jabang Putut Tetuka (Gatotkaca Bayi) dipinjam Batara Narada, untuk menghadapi Patih Sekipu dari Kerajaan Trabelasuket yang kala itu sedang mengobrak-abrik kayangan, karena Niatnya untuk melamar Bidadari Dewi Supraba ditolak oleh Hyang Pramesti Batara Guru, atas perintah rajanya Prabu kalapracona.”
                   Hokum tokoh utama yang keluar terahir dapat diperoleh dari data sebagai berikut:
“Pada saat pamanya Prabu arjuna mengadakan sayembara yang memperebutkan anaknya Dewi Pregiwa, gatotkaca mengikuti dan berhasil mengalahkan berpuluh kesatria pilih tanding, setelah berhasil mengalahkan Laksmana Mandrakumara yang terhitung masih saudaranya sendiri karena ia anak dari Prabu Duryudana saudara dari pihak kurawa. Setelah memenagkan sayembara itu ahirnya gatot kaca menikah dengan saudara sepupunya sendiri dewi pregiwa, gatotkaca mempunyai anak Sasikirana. Gatotkaca benar-benar menjadi kesatria pilih tanding, dikatakan kekuatanya akan meningkat berlipat-lipat kala malam menjelang karena ajian gelap sakyuto yang dimilikinya.”
  1. Hukum Anak Kembar
Sudikan (2001:73) memberi penjelasan tentang hukum anak kembar dalam arti yang luas. Anak kembar dapat diartikan sebagai anak kembar yang sesungguhnya, yaitu dua orang yang seayah seibu yang dilahirkan pada hari, tanggal yang sama dan biasanya memiliki wajah yang sama. Anak kembar juga dapat diartikan  saudara kandung, yaitu dua orang yang dilahirkan dari ibu dan ayah yang sama tetapi dilahirkan pada hari, tanggal, bulan, dan tahun yang berbeda. Dalam hal ini anak kembar juga dapat berupa dua tokoh yang menampilkan diri dalam peran yang sama,misalnya saja sepasang penjahat, sepasang petugas keamanan dan lain sebagainya.
Jika kita merujuk dari pendapat sudikan ini cerita gatotkaca raja pringgadani tidak memiliki hukum anak kembar, dalam cerita raja pringgadani ini hanya menjelaskan patner gatotkaca tetapi tokoh yang bersama gatotkaca tersebut tidak memiliki peran yang sejajar.
  1. Hukum Dua Tokoh Dalam satu Adegan
Sudikan (2001:72) yakni didalam suatu adegan cerita rakyat, tokoh yang diperkenankan untuk menampilkan diri dalam waktu yang bersamaan, paling banyak hanya boleh menceritakan dua orang saja. Berdasarkan pendapat sudikan didalam cerita raja pringgodani ini tidak terdapat hokum dua tokoh dalam satu adegan, karena setiap adegan yang terjadi tokoh-tokohnya datang dan silih berganti dan tidak ada penumpukan tokohnya.
  1. Hukum Pengulangan
Sudikan (2001:72) menjelaskan bahwa demi memberi tekanan kepada cerita rakyat, suatu adegan diulang beberapa kali. Pengulangan adegan itu dilakukan dalam berbagai berbagai bentuk, misalnya saja pengulangan tindakan tokoh, pengulangan bentuk-bentuk ucapan tokoh atau pengulangan setting-setting tokoh.
  1. Hukum Tiga Kali
Sudikan (2001:72)  menjelaskan hukum tiga kali bahwa tokoh cerita rakyat baru akan berhasil  dalam menunaikan tugasnya setelah mencobanya tiga kali. Menunaikan tugas dapat diartikan sebagai melakukan aktivitas yang diperintahkan raja atau keluarga kerajaan. Sedangkan keberhasilan menunaikan tugas dapat diukur dari seberapa jauh tugas tersebut tercapai atau dilaksanakan.
Hokum tiga kali ini dalam cerita raja pringgodani dapat dilihat dari alur nomor 3,4 & 5 dalam alur nomer tiga ini menceritakan arjuna melawan patih skipu yang merebutkan Pusaka Kontawijaya yang akan digunakan untuk memotong tali pusar gatotkaca, dari alur nomor empat pertarungan gatotkaca dengan patih skipu masih seri dan dari pertarungan selanjutnya gatotkaca berhasil mengalahkan patih skipu. Itu tergambar dari teks berikut:
“Lalu sesuai janjinya “janji akan bertarung dengan gatotkaca setelah gatotkaca dewasa” berlangsunglah lagi perang tanding dengan sekipu, tidakberlangsung lama dengan sekali gigit patih sekipu tewas. Para pandawa dan sri kresna yang juga datang ke kahyangan memberi nasihat kepada gatotkaca untuk tidak meneruskan perangai raksasanya, bertarunglah secara kesatria, dalam upacara tolak bala singkat gigi taring gatotkaca dipotong.” (pertarungan ke3)
  1. Hukum Berpola Cerita Rakyat
Sudikan (2001:73) menjelaskan hukum berpola cerita rakyat dengan memberi contoh  sebagai berikit. Misalnya seorang pemuda harus pergi ke suatu tempat tiga hari berturut-turut dan setiap hari ia akan bertemu dengan raksasa dan berhasil membunuhnya dengan cara yang sama.
  1. Hukum Logika Legenda
Sudikan (2001:73) menjelaskan cerita rakyat mempunyai logika sendiri, logika yang tidak sama dengan logika ilmu pengetahuan, dan biasanya lebih bersifat animisme, berlandaskan pada kepercayaan terhadap kemukzizatan dan ilmu gaib.
Hokum logika legenda ini tercermin dalam cerita raja pringgodani, logika legenda yang tampak adalah jika seseorang bersemedi untuk mendapatkan petunjuk pasti akan mendapatkan petunjuk. Hal itu dapat digambarkan melalui teks berikut:
“Raden Arjuna sebagai paman ikut prihatin dengan keadaan keponakanya memutuskan untuk bersemedi mencari petunjuk Sang Dewata: Arjuna: “Kakang Bima… aku mohon izin untuk pergi bersemedi memohon petunjuk Sang Batara, agar tali pusat Jabang Tutuka bisa dipotong” arjuna memohon izin ke Bima.”
  1. Hukum keadaan berlawanan
Sudikan (2001: 73) menjelaskan hokum keadaan berlawanan menceritakan diantara tokoh-tokoh cerita mempunyai sifat yang berlawanan, misalnya thor yang kuat memerlukan odin yang bijaksana atau loki yang licik untuk mendampinginya. Berdasarkan teori sudikan tersebut cerita raja pringgodani ini tidak memiliki hokum berlawanan karena cerita ini tidak menampakkan sifat patner gatotkaca maupun sifat patner musuh-musuhnya.
10.   Hukum Adanya Satu Cerita dalam Suatu Cerita
Sudikan (2001:73) menjelaskan dalam satu cerita, jalan ceritanya tidak akan kembali lagi hanya untuk mengisi kekurangan yang tertinggal dan jika sampai ada kajadian yang tertinggal maka hanya akan diisi dalam rupa dialog saja missal terdapat pada kutipan “(Lalu sesuai janjinya “janji akan bertarung dengan gatotkaca setelah gatotkaca dewasa”)”
11.   Hokum pengunaan adegan tablo
Penerapan hukum pengunaan adegan tablo ini merupakan adegan adegan puncak yang dapat merubah tokoh utama, hal ini sesuai dengan pendapat sudikan (2001:73) yang enjelaskan hokum penggunaan hokum tablo yakni adegan-adegan puncak seperti adegan Samson diikat di tiang pilar setelah matanya di butakan. Hokum tablo ini dapat dilihat dari kutipan teks berikut:
“Gatotkaca kemudian dijeburkan ke kawah Candradimuka di Gunung Jamurdipa, Para Dewa menaburi Jabang Tetuka dengan berbagai senjata pusaka, alih-alih mati dalam panasnya kawah candradimuka, Jabang tetuka keluar menjadi kesatria dewasa dan semua pusaka yang dilemparkan para dewa sudah melebur dan bersatu dalam raganya, itulah kenapa Gatotkaca dijuluki “otot kawat tulang besi” karena tubuhnya tak bisa terlukai oleh senjata apapun.”
                            Dari kutipan tersebut tergambar bahwa puncak tiik balik dan alasan mengapa gatotkaca semakin sakti terungkap. 
12.   Hukum Pemusatan pada Tokoh Utama
Hokum pemusatan pada tokoh utama ini sangat terlihat dari setiap alur cerita, karena setiap alur cerita tersebut selalu berkaitan dengan tokoh utama. Missal cerita pada alur nomor tiga, tentang Pertarungan arjuna merebutkan Pusaka Kontawijaya, walaupun gatotkaca tidak ikut bertarung, tetapi pertarungan tersebut terjadi karena merebutkan pusaka kontawijaya yang akan digunakan untuk memotong tali pusar gatotkaca, secara tidak langsung pertarungan tersebut terjadi karena gatotkaca.
13.  Hokum kesatupaduan rencana cerita
Hokum kesatupaduan rencana cerita pada cerita raja pringgodani ini tergambarkan dalam alur cerita nomer 4 & 5, dari cerita alur nomer empat gatot kaca yang masih kecil bertarung dengan patih skipu, tetapi didalam pertarungannya dengan gatotkaca patih skipu tak bisa menundukkan gatotkaca dan pertarungannya berlangsung seri (tidakada yang menang dan tidakada yang kalah), setelah pertarungan itu patih skipu berjanji untuk bertarung lagi dengan gatotkaca setelah gatotkaca dewasa. Setelah gatotkaca dewasa Pertarungan kedua gatotkaca melawan patih skipu dilanjutkan dan dengan mudah gatotkaca dapat mengalahkan patih skipu. Dari cerita diatas tergambar dengan jelas kesatupaduan antar alur cerita.

Variasi Bahasa dan Kelas Sosial

Posted by joko yulianto 0 komentar

Variasi Bahasa dan Kelas Sosial


A.         Variasi Bahasa
Variasi bahasa terjadi oleh karena amat luas wilayah pemakaiaannya dan bermacam-macam penuturnya. Interaksi antara satu orang dengan orang yang lainnya yang berbeda, faktor sejarah, dan perkembangan masyarakat membawa berpengaruh pada bahasa sehingga berubah menjadi berbagai ragam. Jadi keragaman itu adalah mau tidak mau, merupakan konsekwensi dari hukum alam.
Dalam hal variasi bahasa ini ada dua pandangan. Pertama, variasi itu dilihat sebagai akibat adanya keragaman sosial penutur bahasa itu dan keragaman fungsi bahasa itu. Jadi variasi bahasa itu terjadi sebagai akibat dari adanya keragaman sosial dan keragaman fungsi bahasa. Kedua, variasi bahasa itu sudah ada untuk memenuhi fungsinya sebagai alat interaksi dalam kegiatan masyarakat yang beraneka ragam. Kedua pandangan ini dapat saja diterima ataupun ditolak. Yang jelas, variasi bahasa itu dapat diklasifikasikan berdasarkan adanya keragaman sosial dan fungsi kegiatan didalam masyarakat sosial. Namun Halliday membedakan variasi bahasa berdasarkan pemakai (dialek) dan pemakaian (register).
Jenis Ragam Bahasa
Berbagai sumber merincikan ragam bahasa. Ada yang merincikannya dengan membedakan dalam berbagai aspek. Pertama, berdasarkan daerah penggunanya. Ragam daerah sejak lama dikenal dengan nama logat atau dialek. Bahasa yang menyebar luas selalu mengenal logat. Masing-masing dapat dipahami secara timbal balik oleh penuturnya; sekurang-kurangnya oleh penutur dialek yang daerahnya berdampingan. Jika wilayah pemakaiannya orang tidak mudah berhubungan, misalnya karena dipisahkan oleh pegunungan, selat, atau laut, maka lambat-laun logatnya akan membentuk ragam bahasa baru.
Ragam logat/dialek dengan sendirinya erat hubungannya dengan bahasa ibu si penutur. Ciri-ciri yang meliputi tekanan, turun-naiknya nada, dan panjang-pendeknya bunyi bahasa membangun aksen yang berbeda. Logat daerah paling kentara karena tata bunyinya. Logat Indonesia yang dilafalkan oleh orang Tapanuli dan Ambon dapat dikenali karena tekanan kata yang amat jelas.
Sikap penutur terhadap aksen penutur lain berbeda-beda. Aksen itu dapat disenangi dan/atau tidak disenangi. Umumnya dapat dikatakan bahwa kita berlapang hati terhadap kelainan aksen orang selama bahasanya masih dapat dipahami. Mungkin hal ini sebagai pengaruh atas penguasaan bahasa itu yang belum terlalu lama, hingga saat ini masih belum ada proses penyatuan logat yang jelas.
Kedua, berdasarkan tingkat pendidikan penutur. Ragam bahasa menurut pendidikan formal menunjukkan perbedaan yang jelas antara kaum yang berpendidikan formal dan yang tidak. Tatabunyi bahasa golongan yang kedua berbeda dengan tatabunyi kaum terpelajar. Dalam bahasa Indonesia, misalnya, bunyi /f/ dan akhiran /-ks/, misalnya, tidak selalu terdapat dalam ujaran orang yang tidak bersekolah. Kata fakultas, film, fitnah, kompleks yang dikenal oleh orang berpendidikan, bervariasi menjadi pakultas, pilm, pitenah, komplek dalam orang yang tidak menikmati pengajaran bahasa di sekolah. Perbedaan yang lain juga nampak pada tata bahasa. Kalimat Saya mau bayar itu uang ke bank cukup jelas maksudnya, tetapi bahasa yang terpelihara menuntut agar bentuknya menjadi Saya mau membayar uang itu ke bank. Bahasa orang yang berpendidikan berciri pemeliharaan.
Ketiga, berdasarkan sikap penutur. Ragam bahasa Indonesia dalam hal ini mencakup sejumlah corak. Ragam ini, biasa disebut langgam atau gaya, pemilihannya bergantung pada sikap penutur terhadap orang yang diajak berkomunikasi. Sikap ini dipengaruhi antara lain, oleh umur dan kedudukan yang disapa, pokok persoalan yang hendak disampaikannya, dan tujuan penyampaian informasinya. Dalam hal ini, penutur dihadapkan dengan pemilihan bentuk-bentuk bahasa tertentu yang menggambarkan sikap penutur yang kaku, dingin, hambar, hangat, akrab, atau santai. Perbedaan berbagai gaya itu tercermin dalam pilihan kosa kata dan tata bahasa. Meskipun begitu, gaya yang bermacam-macam itu tetap kita kenali. Misalnya, gaya bahasa ketika kita sedang laporan kepada atasan, atau ketika sedang marah, membujuk anak, menulis surat kepada kekasih, mengobrol dengan teman karib.
Keempat, ragam bahasa menurut bidang atau pokok persoalan yang melingkupi penutur. Setiap penutur bahasa hidup dan bergerak dalam sejumlah bidang kehidupan sehingga penutur harus memilih salah satu ragam yang berkaitan atau cocok dengan bidang yang dikuasainya. Bidang yang dimaksud itu, misalnya, agama, politik, teknologi, pertanian, seni, olah raga, hukum, dll.
Kelima, ragam bahasa menurut sarananya terbagi atas ragam lisan atau ujaran dan ragam tulisan. Ragam lisan lebih dahulu dikuasai oleh penggunanya sedangkan ragam lisan diperoleh kemudian. Dalam ragam tulis, orang yang diajak berkomunikasi tidak ada dihadapan kita. Akibatnya, bahasa kita perlu lebih jelas karena tulisan kita tidak dapat disertai oleh gerak isyarat, pandangan, atau anggukan tanda penegasan di pihak kita atau pemahaman di pihak lain yang kita ajak berkomunikasi. Itulah sebabnya, kalimat dalam ragam tulisan harus lebih cermat sifatnya. Fungsi tata bahasa, seperti subjek, predikat, dan objek, serta hubungan di antara fungsi itu, harus jelas. Dalam ragam ujaran, karena penutur bersemuka/berhadapan, fungsi itu dapat ditinggalkan.
Halliday merincikannya sebagai berikut:
a.         Variasi dari Segi Pemakai/Penutur: Idiolek, dialek, kronolek, sosiolek
b.         Variasi dari Segi Pemakaian, yakni bahasa digunakan untuk keperluan atau bidang apa. Misalnya, bidang sastra, jurnalistik, pertanian, militer, pelayaran, pendidikan, dsb.
c.         Variasi dari Segi Keformalan. Dalam hal ini variasi bahasa dibagi menjadi lima macam gaya (ragam), yaitu ragam beku (frozen); ragam resmi (formal); ragam usaha (konsultatif); ragam santai (casual); ragam akrab (intimate).
d.         Variasi dari Segi Sarana. Dalam hal ini terdapat ragam lisan dan tulis atau juga ragam dalam berbahasa dengan menggunakan sarana atau alat tertentu, misalnya bertelepon atau bertelegraf.
Beberapa Istilah dalam Ragam Bahasa
1.         Bahasa Standar
Bahasa standar adalah bahasa yang memiliki norma tertentu sebagai patokan atas ragam yang lain. Bahasa standar atau bahasa baku digunakan sebagai bahasa persatuan dalam masyarakat bahasa yang mempunyai banyak bahasa. Bahasa baku umumnya ditegakkan melalui kamus (ejaan dan kosakata), tata bahasa, pelafalan, lembaga bahasa, status hukum, serta penggunaan di masyarakat (pemerintah, sekolah, dll).
Bahasa baku tidak dapat dipakai untuk segala keperluan, tetapi hanya untuk komunikasi resmi, wacana teknis, pembicaraan di depan umum, dan pembicaraan dengan orang yang dihormati. Di luar keempat penggunaan itu, dipakai ragam takbaku.
2.         Idiolek
Idiolek merupakan variasi bahasa yang bersifat perseorangan. Setiap orang mempunyai idiolek masing-masing. Idiolek ini berkenaan dengan “warna” suara, pilihan kata, gaya bahasa, susunan kalimat, dsb. Yang paling dominan adalah warna suara, kita dapat mengenali suara seseorang yang kita kenal hanya dengan mendengar suara tersebut Idiolek melalui karya tulis pun juga bisa, tetapi disini membedakannya agak sulit.
3.         Dialek
Dialek yaitu variasi bahasa dari sekelompok penutur yang berada di suatu tempat atau area tertentu. Bidang studi yang mempelajari tentang variasi bahasa ini adalah dialektologi. Variasi ini berbeda satu sama lain dalam sekelompok penutur itu, tetapi masih banyak menunjukkan kemiripan sehingga belum pantas disebut bahasa yang berbeda. Biasanya pemerian dialek adalah berdasarkan geografi, namun bisa berdasarkan faktor lain, misalkan faktor sosial.
Sebuah dialek dibedakan berdasarkan kosa kata, tata bahasa, dan pengucapan (fonologi, termasuk prosodi). Jika pembedaannya hanya berdasarkan pengucapan, maka istilah yang tepat ialah aksen dan bukan dialek.
Jenis dialek
Berdasarkan pemakaian bahasa, dialek dibedakan menjadi berikut:
          Dialek regional: varian bahasa yang dipakai di daerah tertentu. Misalnya, bahasa Melayu dialek Ambon, dialek Jakarta, atau dialek Medan.
          Dialek sosial: dialek yang dipakai oleh kelompok sosial tertentu atau yang menandai strata sosial tertentu. Misalnya, dialek remaja.
          Dialek temporal, yaitu dialek yang dipakai pada kurun waktu tertentu. Misalnya, dialek Melayu zaman Sriwijaya dan dialek Melayu zaman Abdullah.
          Idiolek, keseluruhan ciri bahasa seseorang yang khas pribadi dalam lafal, tata bahasa, atau pilihan dan kekayaan kata.
4.         Kronolek
Kronolek atau dialek temporal, yaitu variasi bahasa yang digunakan oleh kelompok sosial pada masa tertentu. Sebagai contoh, variasi bahasa Indonesia pada masa tahun tiga puluhan, lima puluhan, ataupun saat ini.
5.         Sosiolek
Sosiolek (dari sosial dan dialek) adalah ragam bahasa yang terkait dengan suatu kelompok sosial tertentu. Sosiolek antara lain terjadi pada berbagai kelompok masyarakat menurut kelas sosial, usia, serta pekerjaan. Contohnya adalah perbedaan bahasa antara masyarakat kelas atas dan kelas bawah, remaja dan orang tua, serta antara dokter dan pengacara.
Sosiolek atau dialek sosial, yaitu variasi bahasa yang berkenaan dengan status, golongan dan kelas sosial para penuturnya. Dalam sosiolinguistik variasi inilah yang menyangkut semua masalah pribadi penuturnya, seperti usia, pendidikan, keadaan sosial ekonomi, pekerjaan, seks, dsb. Sehubungan dengan variasi bahasa yang berkenaan dengan tingkat, golongan, status, dan kelas sosial para penuturnya disebut dengan prokem.
6.         Register
A register is a variety of a language used for a particular purpose or in a particular social setting ‘berbagai bahasa yang digunakan untuk tujuan tertentu atau dalam lingkungan sosial tertentu’. Variasi ini biasanya dibicarakan berdasarkan bidang penggunaan, gaya, atau tingkat keformalan dan sarana penggunaan. Variasi bahasa berdasarkan bidang pemakaian ini adalah menyangkut bahasa itu digunakan untuk keperluan atau bidang apa. Misalnya, bidang sastra, jurnalistik, pertanian, militer, pelayaran, pendidikan, dsb. Berdasarkan gaya contohnya, ketika menyapa lawan bicara digunakan kata “kamu” untuk yang sebaya/lebih rendah statusnya atau “anda” untuk yang lebih tinggi.
7.         Ragam Beku
Ragam beku adalah variasi bahasa yang paling formal, yang digunakan dalam situasi khidmat dan upacara resmi. Misalnya, dalam khotbah, undang-undang, akte notaris, sumpah, dsb.
8.         Ragam Resmi
Ragam resmi adalah variasi bahasa yang digunakan dalam pidato kenegaraan, rapat dinas, ceramah, buku pelajaran, dsb.
9.         Ragam Usaha
Ragam usaha adalah variasi bahasa yang lazim digunakan pembicaraan biasa di sekolah, rapat-rapat, ataupun pembicaraan yang berorientasi kepada hasil atau produksi. Wujud ragam ini berada diantara ragam formal dan ragam informal atau santai.
10.       Ragam Santai
Ragam santai adalah variasi bahasa yang digunakan dalam situasi tidak resmi untuk berbincang-bincang dangan keluarga atau teman pada waktu beristirahat, berolahraga, berekreasi, dsb. Ragam ini banyak menggunakan bentuk alegro, yakni bentuk ujaran yang dipendekkan.
11.       Ragam Akrab
Ragam akrab adalah variasi bahasa yang biasa digunakan oleh para penutur yang hubngannya sudah akrab, seperti antar anggota keluarga, atau teman karib. Ragam ini menggunakan bahasa yang tidak lengkap dengan artikulasi yang tidak jelas.
12.       Ragam Lisan dan Tulisan
Bahasa yang dihasilkan melalui alat ucap (organ of speech) dengan fonem sebagai unsur dasar dinamakan ragam bahasa lisan, sedangkan bahasa yang dihasilkan dengan memanfaatkan tulisan dengan huruf sebagai unsur dasarnya, dinamakan ragam bahasa tulis. Jadi dalam ragam bahasa lisan, kita berurusan dengan lafal, dalam ragam bahasa tulis, kita berurusan dengan tata cara penulisan (ejaan). Selain itu aspek tata bahasa dan kosa kata dalam kedua jenis ragam itu memiliki hubungan yang erat. Ragam bahasa tulis yang unsur dasarnya huruf, melambangkan ragam bahasa lisan. Oleh karena itu, sering timbul kesan bahwa ragam bahasa lisan dan tulis itu sama. Padahal, kedua jenis ragam bahasa itu berkembang menjdi sistem bahasa yang memiliki seperangkat kaidah yang tidak identik benar, meskipun ada pula kesamaannya. Meskipun ada keberimpitan aspek tata bahasa dan kosa kata, masing-masing memiliki seperangkat kaidah yang berbeda satu dari yang lain.
Dalam penggunaan ragam bahasa baku tulis makna kalimat yang diungkapkannya tidak ditunjang oleh situasi pemakaian, sedangkan ragam bahasa baku lisan makna kalimat yang diungkapkannya ditunjang oleh situasi pemakaian sehingga kemungkinan besar terjadi pelesapan unsur kalimat. Oleh karena itu, dalam penggunaan ragam bahasa baku tulis diperlukan kecermatan dan ketepatan di dalam pemilihan kata, penerapan kaidah ejaan, struktur bentuk kata dan struktur kalimat, serta kelengkapan unsur-unsur bahasa di dalam struktur kalimat.
13.       Diglosia
Diglosia adalah suatu situasi bahasa di mana terdapat pembagian fungsional atas variasi-variasi bahasa atau bahasa-bahasa yang ada di masyarakat. Dalam situasi diglosia akan kita jumpai adanya tingkat-tingkat bahasa dalam beberapa bahasa daerah di Indonesia, seperti bahasa Jawa, Sunda, Bali, Madura, yang masing-masing mempunyai nama. Dengan demikian diglosia itu mengacu kepada kondisi dua ragam dalam satu bahasa hidup berdampingan dalam guyup bahasa, dan masing-masing ragam itu mempunyai peran atau fungsi tertentu.
14.       Pidgin
Bahasa pijin atau pidgin adalah sebuah bentuk bahasa kontak yang digunakan oleh orang-orang dengan latar belakang bahasa yang berbeda-beda. Sebuah pijin biasanya memiliki tatabahasa yang sangat sederhana dengan kosakata dari bahasa yang berbeda-beda. Sebuah pijin tidak memiliki penutur bahasa ibu. Jika memiliki penutur asli maka bahasa ini disebut bahasa kreol.
Kebanyakan bahasa memiliki penutur asli. Pidgin adalah bahasa yang tidak memiliki penutur asli. Pidgin tidak pernah menjadi bahasa pertama dari sebuah kelompok masyarakat. Pidgin hanyalah bahasa untuk melakukan kontak sosial. Dengan kata lain, pidgin lahir dari sebuah situasi multibahasa. Dalam situasi seperti ini, para individu mencari bahasa yang bentuknya sederhana. Oleh karena bentuknya sederhana, bahasa itu dapat dipahami oleh orang lain juga. Pidgin acapkali disebut sebagai bahasa normal yang ‘disunat’ atau disederhanakan.
15.       Kreol
Bahasa kreol adalah keturunan dari bahasa pijin yang menjadi bahasa ibu bagi sekelompok orang yang berasal dari latar belakang berbeda-beda. Bahasa-bahasa kreol yang ada di dunia menunjukkan adalah kesamaan, khususnya dari segi tata bahasa yang mengarah pada bahasa universalnya (pidgin). Contoh kreol Melayu, yakni: Betawi, Melayu Ambon, Melayu Manado, Melayu Ternate, Melayu Banda, Melayu Kupang, dll.
16.       Aksen/Logat
Aksen adalah pelafalan khas yang menjadi ciri seseorang sesuai dengan asal daerah ataupun suku bangsa (logat). Kekhasan itu pada cara mengucapkan kata (aksen) atau lekuk lidah. Logat dapat mengidentifikasi lokasi dimana pembicara berada, status sosial-ekonomi, dan lain lainnya.
B.         Kelas Sosial
Kelas sosial atau golongan sosial merujuk kepada perbedaan hierarkis (atau stratifikasi) antara insan atau kelompok manusia dalam masyarakat atau budaya. Biasanya kebanyakan masyarakat memiliki golongan sosial, namun tidak semua masyarakat memiliki jenis-jenis kategori golongan sosial yang sama. Berdasarkan karakteristik stratifikasi sosial, dapat kita temukan beberapa pembagian kelas atau golongan dalam masyarakat. Beberapa masyarakat tradisional pemburu-pengumpul, tidak memiliki golongan sosial dan seringkali tidak memiliki pemimpin tetap pula. Oleh karena itu masyarakt seperti ini menghindari stratifikasi social. Dalam masyarakat seperti ini, semua orang biasanya mengerjakan aktivitas yang sama dan tidak ada pembagian pekerjaan.
Secara harfiah kelas sosial sering juga mengacu kepda golongankepada masyarakat yang yang mempunyai kesamaan atau perbedaan dalam bidang kemasyarakatan seperti Ekonomi, Pekerjaan, Pendidikan, Kedudukan, Kasta, dan Sebagainya. Perbedaan menurut bidang ini pun masih memiliki kelas sosial, misalnya dalam bidang Ekonomi, yakni kelas sosila ekonomi mampu dan tidak mampu. Dalam bidang Pekerjaan pun terdapat kelas sosial yakni kelas para petinggi (direktur dan semacamnya) dan kelas pekerja kasar (anak buah).
Jika dikaitkan dengan bahasa bisa  kita mengambil beberapa contoh sebagai berikut:
1.         Bahasa Jawa
Bahasa Jawa mengenal undhak-undhuk basa dan menjadi bagian integral dalam tata krama (etiket) masyarakat Jawa dalam berbahasa. Dialek Surakarta biasanya menjadi rujukan dalam hal ini. Bahasa Jawa bukan satu-satunya bahasa yang mengenal hal ini karena beberapa bahasa Austronesia lain dan bahasa-bahasa Asia Timur seperti bahasa Korea dan bahasa Jepang juga mengenal hal semacam ini. Dalam sosiolinguistik, undhak-undhuk merupakan salah satu bentuk register.
Terdapat tiga bentuk utama variasi, yaitu ngoko ("kasar"), madya ("biasa"), dan krama  ("halus"). Di antara masing-masing bentuk ini terdapat bentuk "penghormatan" (ngajengake,honorific) dan "perendahan" (ngasorake, humilific). Seseorang dapat berubah-ubah registernya pada suatu saat tergantung status yang bersangkutan dan lawan bicara. Status bisa ditentukan oleh usia, posisi sosial, atau hal-hal lain. Seorang anak yang bercakap-cakap dengan sebayanya akan berbicara dengan varian ngoko, namun ketika bercakap dengan orang tuanya akan menggunakan krama andhap dan krama inggil. Sistem semacam ini terutama dipakai di Surakarta, Yogyakarta, dan Madiun. Dialek lainnya cenderung kurang memegang erat tata-tertib berbahasa semacam ini.
Sebagai tambahan, terdapat bentuk bagongan dan kedhaton, yang keduanya hanya dipakai sebagai bahasa pengantar di lingkungan keraton. Dengan demikian, dikenal bentuk-bentuk ngoko lugu, ngoko andhap, madhya, madhyantara, krama, krama inggil, bagongan, kedhaton.
Di bawah ini disajikan contoh sebuah kalimat dalam beberapa gaya bahasa yang berbeda-beda ini.
Bahasa Indonesia: "Maaf, saya mau tanya rumah Kak Budi itu, di mana?"
1.         Ngoko kasar: “Eh, aku arep takon, omahé Budi kuwi, nèng*ndi?’
2.         Ngoko alus: “Aku nyuwun pirsa, dalemé mas Budi kuwi, nèng endi?”
3.         Ngoko meninggikan diri sendiri: “Aku kersa ndangu, omahé mas Budi kuwi, nèng ndi?” (ini dianggap salah oleh sebagian besar penutur bahasa Jawa karena menggunakan leksikon krama inggil untuk diri sendiri)
4.         Madya: “Nuwun sèwu, kula ajeng tanglet, griyané mas Budi niku, teng pundi?” (ini krama desa (substandar)
5.         Madya alus: “Nuwun sèwu, kula ajeng tanglet, dalemé mas Budi niku, teng pundi?” (ini juga termasuk krama desa (krama substandar))
6.         Krama andhap: “Nuwun sèwu, dalem badhé nyuwun pirsa, dalemipun mas Budi punika, wonten pundi?” (dalem itu sebenarnya pronomina persona kedua, kagungan dalem 'kepunyaanmu'. Jadi ini termasuk tuturan krama yang salah alias krama desa)
7.         Krama lugu: “Nuwun sewu, kula badhé takèn, griyanipun mas Budi punika, wonten pundi?”
8.         Krama alus “Nuwun sewu, kula badhe nyuwun pirsa, dalemipun mas Budi punika, wonten pundi?”
nèng adalah bentuk percakapan sehari-hari dan merupakan kependekan dari bentuk baku ana ing yang disingkat menjadi (a)nêng.
Dengan memakai kata-kata yang berbeda dalam sebuah kalimat yang secara tatabahasa berarti sama, seseorang bisa mengungkapkan status sosialnya terhadap lawan bicaranya dan juga terhadap yang dibicarakan. Walaupun demikian, tidak semua penutur bahasa Jawa mengenal semuanya register itu. Biasanya mereka hanya mengenal ngoko dan sejenis madya.
2.         Bahasa Madura
Sama halnya dengan bahasa Jawa, bahasa madura pun memilki kelas atau tingkatan dalam hal penggunaannya. Karena memiliki tiga varian bahasa yakni bahasa Enje’-Iyeh (kasar), Enggi-Enten (biasa),dan Enggi-Bhunten (halus).
Kelas bahasa ini sangat mudah kita jumpai jika kita berada di sekitar lingkungan pondok pesantren yang ada di Madura. Dapat dijelaskan, dalam perkataan sesama santri mereka memakai bahasa “kasaran” yakni enje’-iyeh, dan jika santri dengan pengurus pesantren para santri menggunakan bahasa enggi-enten, dan jika santri dengan kiai maka para santri harus menggunakan bahasa enggi-bhunten. Itu jika di lingkungan pesantren, yang masih sangat kental dan merupaka tempat untuk belajar tatakrama dalam bertingkah laku ataupun berbicara dengan sesama ataupun orang yang lebih tua. Namun, kelas ini sangat fleksibel sama halnya dengan bahasa jawa, tapi tidak sekongkrit bahasa Jawa.
Bahasa Indonesia: "Maaf, saya mau tanya rumah Kak Budi itu, di mana?"
a.         Enje’-iyeh terhadap ...
          Sesama: “Eh, sengko’ atanya ah, romanahcak Budi juah, e dimmah?”
          Orang yang lebih tua: “Ta’ langkong saporanah, kaula atanya ah compok nah cak Budi e kimmah gi ?”
          Orang Tua/ Guru/ Kiai (orang yang dihormati):“yu’un saporah pak, buleh/ abdinah atanya ah dhalem mah cak Budi, e ka immah gi ?”
b.         Enggi-Enten
          Sesama : manabi roma nah budi e dimmah gi?
          Orang yang lebih tua: tak langkong gi, kaula apkonah compok nah cak Budi e kimmah gi ?
          Orang Tua/ Guru/ Kiai (orang yang dihormati):  “yu’un pangaporah nah, buleh/ abdinah terro oneng ngah dhalem mah cak Budi, e ka immah gi ?”
c.         Enggi-Bhunten
Dalam kelas ini hanya di kenal dengan kelas sesama saja, karena yang menggunakan bahasa ini hanya orang-orang sesepuh atau para kiai terhadap kiai. Namun dalam kasus kelas bahasa ini ada sistem kebalikan yaitu bagaimana bicara dengan sesama, dan dengan yang lebih muda saja.
          Sesama: tak langkong, kaula alenggi yeh de’ ka compok nah cak budi, e dimmah gi ?
          Yang lebih muda : eh, engko’ atanya ah, e dimmah roma nah Budi ?
Catatan:
Dalam penggunaan bahasa Madura, ini sangat dipenbgaruhi oleh tindak kesopanan, jika dari anak muda berbicara pada sesama bisa menggunakan bahasa Enje’-Iyeh, sedangkan dengan orang yang lebih tua menggunakan kelas bahasa Enggi-Entenatau pun Enggi-Bhunten, dan jika berbicara dengan orang yang sangat dihormati seperti Orang Tua, Guru, Atau Kiai menggunakan bahasa Enggi-Bhunten.
Namun jika sebaliknya jika orang tua atau sesepuh, guru atau kiai yang berbicara pada anak muda, mereka tidak diharuskan memakai bahasa Enggi-Enten atau pun Enggi Bhunten. Karena jika seorang tersebut memakai bahasa tersebut terkesan merendahkan, meski bahasa yang digunakan adalah bahasa enggi-bhunten. Dan jika kepada sesama bebas memakai kelas bahasa apapun.
Jadidapat disimpulkan bahwa kelas sosial di dalam bahasa itu merupakan sebuah peraturan atau tatak rama dalam berbicara kepada orang lain, yang biasa di kenal dengan tindak tutur kesopanan dalam berbicara. Banyak teori yang sudah dikemukakan tentang kelas sosial bahasa ini. Seperti penelitian William Labov, yang memasukkan dimensi sosial ke dalam dialektologi. Kemudian ada kelas sosial dengan ragam baku ini terdapat di Inggris. Dan ada lagi Teori Bernstein yang mengemukakan pendapat bahwa ada dua ragam bahasa penutur yakni kode terperinci dan kode terbatas. Selain itu ada hipotesis dari Sapir Whort yang berbunyi “pandangan manusia tentang lingkungannya dapat di tentukan oleh bahawanya”.
Daftar Referensi
Gowdy, John. 2006. “Hunter-gatherers and the mythology of the market" in Richard B. Lee and Richard H. Daly (eds.), The Cambridge Encyclopedia of Hunters and Gatherers, pp.391-394. New York: Cambridge University Press
Habermas, J. 2006. "The European Nation State - Its Achievments and Its Limits. On the Past and Future Sovereignty and Citizenship", in G. Balakrishan (ed.) Mapping the Nation. London: Vernon. 281 - 294
http://azhararief.wordpress.com/2008/08/27/variasi-bahasa-dalam-sosiolinguistik/
http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Indonesia
http://id.wikipedia.org/wiki/Ragam_bahasa
http://intl.feedfury.com/content/15241462-ragam-bahasa.html
http://macuy-marucuy.blogspot.com/2009/10/pengertian-ragam-bahasa-dan-hal-hal.html
http://newspaper.pikiran-rakyat.com/Menimbang-nimbang Bahasa Cirebon (Edisi Tahun 2009). Html.
http://uzi-online.blogspot.com/2011/10/ragam-bahasa.html
Hudson, R.A. 1985. Sociolinguistics. Cambridge: Cambridge University Press.
Meecham, Marjorie and Janie Rees-Miller. 2001. Language in social contexts. In W. O'Grady, J. Archibald, M. Aronoff and J. Rees-Miller (eds) Contemporary Linguistics. pp. 537-590. Boston: Bedford/St. Martin's.
Poerwodarminto, WJS. 1988. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Pendahuluan KBBI edisi ketiga.
Uhlenbeck, E.M. 1964. A Critical Survey of Studies on the Languages of Java and Madura. The Hague: Martinus Nijhoff
Sumarsono dan Paina Partana. 2002. Sosiolinguistik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar dan Sabda.

Persoalan2 dari temen2:
Ø  Ragam bahasa dan variasi bahasa:

Ø  Slogan seperti bojonegoro matoh bisa apa tidak di masukkan?
Ø  Berikan contoh sosial ragam bahasa Indonesia.?
Ø  Menurut anda bahasa indo iku sebaiknya harus ada kelas sosial apa tidak?
Ø  Ada gak sih keadilan bahasa iku?