ANALISIS STRUKTURAL LEVI-STRAUSS DALAM CERITA MANDIN TANGKARAMIN

Posted by joko yulianto Rabu, 11 April 2012 0 komentar


ANALISIS STRUKTURAL LEVI-STRAUSS DALAM CERITA
MANDIN TANGKARAMIN
Cerita Rakyat Malinau Kalimantan Timur
by evi "kaltim"
      Loksado adalah salah satu kecamatan yang terdapat di Kabupaten Hulu Sungai Selatan Propinsi Kalimantan Selatan. Di sana ada sebuah kabupaten bernama Malinau. Kabupaten Malinau merupakan salah satu daerah hasil pemekaran wilayah Kabupaten Bulungan berdasarkan Undang-Undang Nomor 47 Tahun 1999. Pada awalnya Malinau adalah sebuah kawasan pemukiman yang semula dihuni suku Tidung. Daerah ini selanjutnya menjadi kampung, berubah menjadi kecamatan. Kini Malinau menjadi ibukota kabupaten. Berdasarkan keterangan tokoh masyarakat suku Tidung, asal mula timbulnya atau disebutnya nama Malinau saat kedatangan orang-orang Belanda ke pemukiman yang dulunya bernama Desa Selamban. Di Desa Selamban tinggal penduduk dari kalangan keluarga Suku Tidung. Sedangkan di seberang sungai terdapat Desa Pelita Kanaan, yang terletak di tepi sungai Kabiran tempat bermukimnya Suku Abai.
      Pada saat Belanda datang ke desa ini, terjadilah dialog dengan sekelompok Suku Abai yakni kaum ibu yang sedang membuat sagu dari aren. Orang Belanda lantas bertanya: "Apa nama sungai ini?" Maksudnya sungai di desa mereka. Penduduk yang mendapat pertanyaan tersebut tidak mengerti. Mereka hanya menduga maksud pertanyaan orang Belanda tersebut, mereka sedang mengerjakan atau melakukan apa. Lantas salah seorang dari mereka menjawab: "Mal Inau dako", yang maksudnya sedang mengolah atau memasak sagu enau/aren. Mal artinya membuat, sedangkan Inau artinya pohon enau/aren. Orang Belanda yang bertanya mencatatnya. Jadi nama Malinau lahir secara tidak sengaja
      Kemudian nama Malinau dalam peta dan administrasi Pemerintah Hindia Belanda yang menyebutkan ada nama sungai Malinau. Sejak itulah daerah ini disebut dengan nama Malinau. Sedangkan dalam perkembangannya, daerah Malinau makin banyak penduduknya yang mulai menyebar ke sebelah hulu dan hilir Desa Selamban sebelumnya. Terus berkembang menjadi kota kecil yang kemudian menjadi Kecamatan Malinau. Terakhir setelah adanya pemekaran wilayah Kabupaten Bulungan, Malinau menjadi ibukota Kabupaten (situs resmi Pemkab Malinau, 2012).
      Di malinau  ada sebuah air terjun bernama Mandin Tangkaramin. Konon, menurut bahasa penduduk di sana, mandin berarti air terjun. Jadi, mandin Tangkaramin berarti air terjun Tangkaramin. Akan tetapi, kata mandin sudah menyatu dengan Tangkaramin sehingga kedua kata itu tak terpisahkan. Adapun kisah selengkapnya adalah sebagai berikut.

Kisah Madin Tangkaramin
(1)   Air terjun itu. tidak terlalu tinggi, sekitar tiga belas meter. Hutan lebat mengelilinginya sehingga jika berada di hutan itu terasa selalu dalam dekapan gelap malam. Di dasar air terjun Mandin Tangkaramin terdapat bongkahan-bongkahan batu besar dan kecil. Di antaranya ada bongkah besar berwarna merah, semerah kulit manggis yang ranum, bernama Manggu Masak. Konon, air terjun itu punya kaitan dengan satu kejadian, yakni perkelahian satu lawan satu antara Bujang Alai (BA) dengan Bujang Kuratauan (BK). Dalam perkelahian itu natinya akan melibatkan keluarha kedua belah pihak yaitu pihak Bujang Alai (PBA) dan pihak Bujang Kuratauan (PBK).
(2)   Kita ambil cerita singkatnya bahwa kedua pemuda itu memiliki kelebihan dan kekurangan. Akibatnya, mereka hidup dalam persaingan yang membuahkan dendam terpendam. BA adalah seorang pemuda tampan, angkuh, dan kaya. Ia selalu menyisipkan keris di pinggangnya setiap pergi ke mana saja. Jimat pun selilit pinggang. Karena merasa yakin akan kelebihannya, ia sering bertindak sesuka hati. Ia selalu mempertontonkan keberaniannya di mana saja, dengan harapan orang-orang tertarik kepadanya.
(3)   Berbeda sekali keadaannya dengan BK. Ia berpenampilan sederhana dan tidak setampan BA. Ia seorang pemuda yang rendah hati dan penyabar. Selain itu, cara berpikir dan gagasannya menunjukkan kejernihan otaknya. Ia bukan dari kalangan orang kaya. Akan tetapi, ia punya sisi lain yang dapat diandalkan. Ia tidak berusaha menonjolkannya, tetapi muncul sendiri karena diharapkan masyarakat. Musyawarah di desa terasa belum lengkap tanpa kehadirannya. Sebuah keputusan dalam rapat tidak akan diambil tanpa ia turut menganggukkan kepala.
(4)   Jika BA menyelipkan keris dan jimat selilit pinggang untuk menambah keangkuhannya, BK pun selalu membawa senjata setiap bepergian. Parang bungkul, senjata tradisional orang Banjar, selalu tersangkut di pinggangnya. Akan tetapi, senjata itu tidak akan keluar dari sarungnya jika bukan untuk menegakkan kehormatan, kebenaran, dan keadilan.
(5)   Pada suatu ketika, desa mereka gempar. Ada peristiwa yang dianggap melanggar adat dan mencemarkan nama keluarga, serta mencorengkan arang di muka anggota masyarakat. Seorang gadis hilang entah ke mana tanpa diketahui sebabnya. Bukan hanya orang tua gadis itu yang panik dan amat terpukul, BK pun terusik perasaannya. Walaupun gadis itu bukan keluarganya atau perempuan yang akan dijodohkan kepadanya, peristiwa itu dirasakan sebagai tantangan terhadap dirinya. Ia diminta menunjukkan kemampuannya untuk menemukan gadis itu. Oleh karena itu, BK bertekad menyelidiki perkara ini sampai tuntas. Jauh di hati kecilnya muncul kecurigaan bahwa BA menculik gadis itu. “Sekali ini pasti ia akan kena batunya,” ujar Bujang Kuratauan dalam hati. Belum lagi usaha pengusutan mencapai titik terang, BA tiba-tiba menepuk dada. Ia berkata dengan lantang, “Di rumah saya ada seorang gadis yang saya sembunyikan. Silakan jemput gadis itu, tetapi dengan syarat orang itu mampu menahan ujung kerisku lebih dulu!”
(6)   Jelaslah bahwa BA menantang BK. Dahi BK berkerut, daun telinga memerah, gigi gemeretuk, dan kilat mata tajam melukiskan amarah. Tangan kanannya meraba hulu parang bungkulnya. Ia berkata dengan suara datar, “Aku tak akan menjemput gadis itu ke rumahmu, tetapi aku menuntut tanggung jawabmu sebagai lelaki!” “Lelaki maksudmu? Keris ini membuktikan kelelakianku! Tentukan tempat dan waktunya!” ujar Bujang Alai sambil meraba keris di pinggang. “Musuh tidak kucari, tetapi jika bersua pantang kuelakkan,” sahut BK. Ia, berusaha meredam kemarahannya yang memuncak dengan suara tertelan, “Jika kerismu mau menjual darah, parang bungkul tumpul ini mampu membelinya!”.
(7)   Singkat cerita terjadi perang tanding antara BK dan BA. Keris Nagarunting milik BA ditarik dari sarungnya, diacungkannya ke atas, dan diliuk-liukkannya ke udara dengan sombong. BK tidak ingin kalah aksi melihat atraksi yang dipamerkan BA. Parang bungkulnya yang tajam berkilat berkelebat membelah udara, dipermainkannya dengan kecepatan tinggi. Setelah mempertunjukkan kebolehan masing-masing, tanpa diduga BA dengan tangkas melompat sambil berusaha menyarangkan keris Nagarunting ke dada BK. Akan tetapi, BK sudah siap sehingga serangan mendadak itu tidak mengejutkannya. Dengan gerakan enteng, ujung keris yang akan menembus jantung dapat dielakkannya. Bahkan jika mau, pasti sempat menebaskan parang bungkulnya ke leher BA. Akan tetapi, BK bukan orang haus darah. Kesempatan emas itu tidak dimanfaatkannya. Sikap itu ternyata membuat hati BA semakin membara. Ia merasa dilecehkan. “Gunakan senjatamu jika engkau merasa sebagai lelaki!” tantang BA. BK tidak menjawab. Ia hanya tersenyum, tetapi tangannya telah siap memegang hulu parang bungkul. Matanya nanap penuh selidik menyiasati gelagat yang akan dilakukan BA.
(8)   Nalurinya tidak salah. BA menyerbu dengan membabi buta. Ia menyarangkan kerisnya bertubi-tubi ke tubuh BK sehingga BK susah mengelakkannya. Gemerincing keris beradu dengan parang bungkul menimbulkan kilatan api di angkasa. Mereka memiliki kehebatan dan kemampuan tempur yang tinggi. Akhirnya, BK tidak hanya menangkis dan mengelak, tetapi ia juga menyerang dan menebaskan parang bungkulnya. Tebasannya berkali-kali mengenai bagian-bagian rawan tubuh BA, tetapi tidak segores pun melukai kulitnya. Demikian halnya BK, berkali-kali ujung keris BA tidak dapat dielakkannya, tetapi sama sekali tidak mencederainya. “Kita lanjutkan di tempat lain!” ujar BA. “Di mana pun aku setuju!” sahut BK. “Mandin Tangkaramin pilihanku!” ujar BA. “Di sana pun aku setuju!” sahut BK.
(9)   Perang tanding ditunda sementara. Mereka sepakat, Mandin Tangkaramin sebagai arena perkelahian berikutnya. Waktu luang menjelang saat pertarungan berikut itu mereka gunakan untuk mempersiapkan diri agar dapat mengalahkan lawan. Setelah merenung dan menilai kehebatan BA, BK berkata dalam hati, “Ia kebal. Parang bungkul yang bagaimanapun tajamnya tak akan melukai kulitnya.” Jika BA berusaha mempertajam keris Nagarunting, BK justru membuat tumpul parang bungkulnya. Mata parangnya bukan dipertajam, melainkan diasah sehingga tumpul seperti bagian belakangnya.
(10)           Dalam pertarungan di Mandin Tangkaramin, memang tidak seorang pun terluka sebab keduanya kebal. Akan tetapi, parang bungkul BK yang tumpul matanya itu membuat tubuh BA memar atau remuk di dalam. Akhirnya, BA pun meninggal.
(11)           Tersiarlah berita tewasnya BA di tangan BK. Kematian BA itu membuat suasana menjadi panas. PBA ingin menuntut balas sebab utang darah harus dibayar darah. PBK tidak tinggal diam. Mereka tidak menginginkan jatuhnya korban. Siasat pun diatur sebaik-baiknya. Obor-obor dinyalakan sehingga perhatian musuh terpancing dalam gelap gulita itu. PBA mengejar obor-obor yang gemerlapan itu dengan kemarahan meluap. PBK menghindarkan diri agar jangan terjadi bentrokan. Setelah sampai di puncak air terjun Mandin Tangkaramin, obor-obor itu mereka lempar ke bawah. Melihat nyala obor-obor itu PBA menduga musuh menyimpang jalan sambil berlari menyusuri lintasan. Mereka hanya berpatokan pada nyala obor yang dilemparkan.
(12)           Singkat cerita PBA pun langsung memintas menuju obor. Jalan pintas yang mereka perkirakan memang tidak ada, kecuali jurang menganga. Sehingga pada akhirnya mereka pun  (PBA) jatuh di atas bongkahan-bongkahan batu. Darah mereka mengucur di batu-batu  dan menjadikan batu-batu merah warnanya, semerah kulit manggis masak. Kemudian hingga saat ini para penduduk setempat menyebutnya Batu Manggu Masak.

      Demikian cerita Madin Tangkaramin, untuk dapat lebih mendalami cerita ini maka perlu dilakukan analiais structural seperti yang telah ditunjukan Levi-Strauss. Mengingat data etnografi tentang Madin Tagkaramin ini belum sempat ditelaah lebih jauh, maka saya akan mencoba menafsirkan cerita di atas berdasarkan prosedur yang telah ditunjukkan oleh Levi-Strauss.
Analisis Ceriteme
      Strauss (2012 : 204) mengatakan bahwa mytheme merupakan tindakan atau peristiwa yang hanya terdapat pada tingkat kalimat. Sedangkan ceritheme merupakan rangkaian-rangkaian kalimat yang mengandung pengertian tertentu. Sebelum melakukan alanilis srtuktural, pada tahapan ini saya akan menampilkan ceriteme terlebih dahulu yang nantinya akan dapat menemukan rangkaian-rangkaian kalimat yang memperlihatkan suatu ‘pengertian’ tertentu seperti berikut.
(1)   “…BA adalah seorang pemuda tampan, angkuh, dan kaya. Ia selalu menyisipkan keris di pinggangnya setiap pergi ke mana saja. Jimat pun selilit pinggang. Karena merasa yakin akan kelebihannya, ia sering bertindak sesuka hati. Ia selalu mempertontonkan keberaniannya di mana saja, dengan harapan orang-orang tertarik kepadanya...” (alenia 2)
(2)   ...”Di rumah saya ada seorang gadis yang saya sembunyikan. Silakan jemput gadis itu, tetapi dengan syarat orang itu mampu menahan ujung kerisku lebih dulu!” (alenia 4)
(3)   “… Ia berpenampilan sederhana dan tidak setampan BA. Ia seorang pemuda yang rendah hati dan penyabar. Selain itu, cara berpikir dan gagasannya menunjukkan kejernihan otaknya. Ia bukan dari kalangan orang kaya…” (alenia 3)
(4)   “…Akan tetapi, ia punya sisi lain yang dapat diandalkan. Ia tidak berusaha menonjolkannya, tetapi muncul sendiri karena diharapkan masyarakat. Musyawarah di desa terasa belum lengkap tanpa kehadirannya. Sebuah keputusan dalam rapat tidak akan diambil tanpa ia turut menganggukkan kepala…” (alenia 3).

      Ceriteme pertama di atas dapat kita katakana mengandung pengertian bahwa “BA adalah orang Malinau yang tergolong kaya dengan segala perilaku buruknya sebagaimana terlihat pada kalimat “Karena merasa yakin akan kelebihannya, ia sering bertindak sesuka hati. Ia selalu mempertontonkan keberaniannya di mana saja, dengan harapan orang-orang tertarik kepadanya”. Ceriteme kedua menyiratkan pengertian bahwa BA adalah orang yang tidak disukai oleh rakyat Malinau karena dia melanggar adat yaitu menculik anak gadis sebagaimana dalam kalimat ”Di rumah saya ada seorang gadis yang saya sembunyikan. Silakan jemput gadis itu, tetapi dengan syarat orang itu mampu menahan ujung kerisku lebih dulu!”. Ceriteme ketiga menyiratkan pengertian bahwa BK adalah orang Malinau yang tergolong tidak kaya akan tetapi memiliki perilaku yang baik seperti terlihat dalam kalimat “Selain itu, cara berpikir dan gagasannya menunjukkan kejernihan otaknya. Ia bukan dari kalangan orang kaya”. Ceriteme keempat memperlihatkan bahwa BK adalah orang yang disukai oleh rakyat Malinau sebagaimana dalam kalimat “Ia tidak berusaha menonjolkannya, tetapi muncul sendiri karena diharapkan masyarakat”.
      Dari empat ceriteme ini dapat kita lihat bahwa terdapat relasi oposisi (oppositional) antara tokoh BA dan BK. BA dapat dikatakan sebagai orang Malinau yang kaya akan tetapi mempunyai perilaku buruk sehingga tidak disukai oleh masyarakat tersebut, sedangkan BK adalah orang Malinau dengan segala kebaikannya sehingga ia dapat diterima dan disukai oleh masyarakat setempat.

Analisis struktural
Episode I (alenia 2-4)
      Dalam episode ini kita dapat melukiskan tentang tokoh Bujang Alai (BA) dan Bujang Karatauan (BK) dengan perbedaan tingkat social dan perbedaan sifat diantara keduanya. BA mencerminkan orang Malinau yang kaya dan mempunyai sifat buruk sehingga masyarakat setempat tidak menyukainya dan (BK) adalah orang Malinau yang miskin dan mencerminkan sifat baik dan karena sifatnya tersebut ia disukai oleh masyarakat setempat. Dari sini kita dapat memperoleh skema sebagai berikut:
BA      : orang Malinau yang tergolong kaya
BK      : orang Malinau yang tergolong miskin

Berdasarkan atas kategori strata sosial, ekonomi yang ada dalam kehidupan sehari-hari orang Malinau, maka episodeini dapat ditafsirkan sebagai simbolisme dari dua strata yaitu strata atas dan strata bawah.
      Jika dilihat dari segi kebiasaan masyarakat dan sifat-sifat/perilaku masyarakat Malinau dapat kita lihat pada skema berikut:
BA      : mempunyai sifat buruk - tidak disukai masyarakat
BK      : mempunyai sifat baik disukai masyarakat

      Dalam episode ini “makna” tokoh BA hanya dapat ditangkap bila dibandingkan dengan tokoh BK. BA adalah orang Malinau yang mempunyai perangai angkuh, menyombongkan kekuatanya dan bertindak sesuka hati sehingga hal tersebut membuat masyarakat tidak menaruh simpati padanya. Berbeda dengan BK yang rendah hati, suka menolong danwalaupun dia mempunyai kesaktian akan tetapi dia tidak menggunakannya kecuali untuk menolong.
     Dilihat dari sudut pandang kemampuan atau kesaktian oposisinya adalah sebagai berikut:
BA      : mempunyai senjata yaitu keris Nagarunting dan menyelipkan keris dan jimat selilit pinggang untuk menambah keangkuhannya.
BK      : mempunyai senjata  yaitu Parang bungkul, senjata tradisional orang Banjar. Akan tetapi, senjata itu tidak akan keluar dari sarungnya jika bukan untuk menegakkan kehormatan, kebenaran, dan keadilan.

Dalam episode ini tokoh BA mencerminkan orang yang gemar memamerkan kesaktiannya kepada orang-orang guna mendapat pengakuan dari masyarakat, BA juga mempunyai senjata yang digunakan untuk menambah keangkuhannya. Hal ini bertolakbelakang dengan tokoh BK yang mencerminkan kerendahan hati walaupun dia juga mempunyai kesaktian dan senjata namun ia hanya mempergunakannya untuk menegakkan keadilan.

Episode II ( alenia 5)
      Pada episode ini meceritakan tentang kejadian yang menggemparkan warga masyarakat yaitu salah seorang warga yang kehilangan anak gadisnya. Jelas bahwa dalam adat kebiasaan masyarakat Malinau bahwa melarikan anak gadis orang adalah perbuatan yang melanggar adat, mencemarkan nama keluarga, serta mencorengkan arang di muka anggota masyarakat. Di dalam episode ini mencerminkan sikap tolong menolong dalan masyarakat Malinau dengan cerminan tokoh BK yang terusik perasaannya, peristiwa itu dirasakan sebagai tantangan terhadap dirinya dan BK bertekad menyelidiki perkara ini sampai tuntas.

Episode III ( alenia 6-8)
      Menceritakan tentang tantangan yang diajukan BA terhadap BK untuk bertanding. Keduanya saling menunjukkan kesaktian dan memperlihatkan kelihaian mereka dalam menggunakan senjata masing-masing. Yang menarik dalam episode ini adalah tidak terjadi inverse atau tidak tergambar perbedaan antara tokoh BA dan BK seperti yang tergambar dalam episode I dan II. Di dalam episode ini mereka sama-sama kuat dan tak terkalahkan, sehingga pertempuran ditunda dan akan dilanjutkan pada tempat yang telah mereka sepakati dengan tidak ada yang menang dan yang kalah.
     
Episode IV (9-10)
      Menceritakan tentang pertempuran sengit antara BA dan BK yang terjadi pada tempat yang telah mereka sepakati yaitu di Mandin Tangkaramin sebagai arena perkelahian. Namun sebelum mereka bertemu untuk bertempur mereka mempersiapkan diri agar dapat mengalahkan lawan. Di sinilah terdapat perbedaan apa yang dilakukan tokoh, skema di bawah ini akan memerlihatkan inverse antara kedua tokoh tersebut.
BA      : berusaha mempertajam keris Nagarunting
BK      : membuat tumpul parang bungkulnya, mata parangnya bukan dipertajam, melainkan diasah sehingga tumpul seperti bagian belakangnya.

Dalam episode ini diceritakan bahwa dalam pertarungan di Mandin Tangkaramin, memang tidak seorang pun terluka sebab keduanya kebal. Akan tetapi,  akal cerdik BK dengan parang bungkul yang tumpul matanya itu membuat tubuh BA memar atau remuk di dalam. Hingga pada akhirnya, BA meninggal.

Episode V (alenia 11-12)
      Mengisahkan peristiwa pasca kematian BA ditangan BK. Kematian BA itu membuat suasana hati rakyat Malinau menjadi panas.  Skema yang memperlihatkan perbedaan adalah  sebagai berikut:
PBA    : ingin menuntut balas sebab utang darah harus dibayar darah.
PBK    : tidak menginginkan jatuhnya korban

Dalam skema di atas sangat jelas tergambar bahwa PBA adalah pihak yang mudah terbakar amarahnya dan mempunyai prinsip utang nyawa dibayar nyawa seperti realitas yang sering terjadi pada masyarakat daerah pedalaman. Jadi dalam episode terakhir ini sebagai simbol superioritas dikalangan masyarakat Malinau siapa yang kuat akan dapat bertahan hidup dan siapa yang kalah akan mempertaruhkan nyawanya. Singkat cerita PBA yang sudah terbakar amarahnya sehingga menutupi akalnya sehingga pada akhirnya mereka pun  jatuh ke jurang di atas bongkahan-bongkahan batu. Darah mereka mengucur di batu-batu  dan menjadikan batu-batu berwarna merah, semerah kulit manggis masak. Kemudian hingga saat ini para penduduk setempat menyebutnya Batu Manggu Masak.
     Berdasarkan episode-episode yang telah dilalui tampak jelas bahwa dalam episode II-V menunjukkan inversi yang ada dalam cerita. Skema berikut akan memudahkan hal ini:
1.      Eps III                         : BK bertempur tak terkalahkan
Eps IV             : BA kalah dalam pertempuran dan tewas ditangan BK

2.      Eps II              : PBK dan PBA saling musyawarah ketika ada pelanggaran adat
Eps V              : PBA terbakar amarah dan menuntut balas kematian BA

Kita lihat di sini adanya hubungan invensional antara episode III dan IV di mana dalam episode III digambarkan BK bertempur tak terkalahkan sedangkan di episode IV BA kalah dalam pertempuran tersebut. Kemudian juga terdapat hubungan invensional antara episode II dan V.
  
Wujud realitas sosial dan konflik antar suku di Malinau
      Cerita di atas sebagai salah satu gambaran bahwa di daerah Malinau pada kondisi ekonomi yang miskin. Dengan jelas digambarkan dalam cerita di atas tentang kondisi daerah tersebut  dengan latar perkampungan, hutan, air terjun dan jurang. Kabupaten Malinau merupakan salah dari 3 (tiga) wilayah kabupaten yang berbatasan langsung dengan negara tetangga. Kabupaten Malinau juga salah satu kabupaten pemekaran yang baru. Secara umum kabupaten Malinau terletak di daerah hulu sungai dan pendalaman yang berbatasan dengan Negara Bagaian Serabwak Malaysia Timur. Dengan Mayoritas penduduk asli malinau berasal dari Suku Dayak dengan berbagai sub-etnisnya seperti Suku Kenya, Suku Lun Dayeh, Suku Tidung dan lain-lain.
      Secara geografis kondisi kawasan perbatasan pada umumnya terpencil, miskin fasilitas sarana dan prasarana, pendapatan ekonomi masyarakat diwilayah perbatasan di Kabupaten Malinau masih kecil, sementara potensi sumber daya alam belum dimanfaatkan secara maksimal. Semua itu karena akses informasi, teknologi yang tidak memadai dan kondisi yang jauh dari pusat pemerintahan. Kehidupan mereka sangat pas-pasan dan bisa dikatakan jauh dari kata modern. Sangat jarang ditemukan alat-alat elektronik yang canggih. Sehingga dalam keadaan seperti itu apabila terjadi perselisihan diantara warga maka hal tersebut masih rawan terjadi konflik antar suku.

Penegasan nilai utama cerita “Mandin Tangkaramin”
      Cerita di atas juga dapat ditafsirkan sebagai upaya orang Malinau untuk menegaskan akan nilai sebuah sikap dalam masyarakat melalui kedua tokoh yaitu BA dan BK. Bahwasanya sikap yang dicerminkan atau digambarkan oleh tokoh BA tidaklah patut untuk di tiru karena kajahatan, keangkuhan, kesombongan, terlebih lagi m elanggar adat akan membawa petaka bagi dirinya sendiri yang kemungkinan besar juga mempertaruhkan nyawanya. Hal ini kontradiksi dengan penggambaran sikap BK yang rendah hati, suka menolong dan membela keadilan yang berujung pada kemenangan dan keselamatan.




      

0 komentar:

Poskan Komentar