Variasi Bahasa dan Kelas Sosial

Posted by joko yulianto Rabu, 11 April 2012 0 komentar



Variasi Bahasa dan Kelas Sosial
Oleh:
Agus Paramuriyanto NIM: 117835008
Bambang Edi P. NIM: 117835022
A.         Variasi Bahasa
Variasi bahasa terjadi oleh karena amat luas wilayah pemakaiaannya dan bermacam-macam penuturnya. Interaksi antara satu orang dengan orang yang lainnya yang berbeda, faktor sejarah, dan perkembangan masyarakat membawa berpengaruh pada bahasa sehingga berubah menjadi berbagai ragam. Jadi keragaman itu adalah mau tidak mau, merupakan konsekwensi dari hukum alam.
Dalam hal variasi bahasa ini ada dua pandangan. Pertama, variasi itu dilihat sebagai akibat adanya keragaman sosial penutur bahasa itu dan keragaman fungsi bahasa itu. Jadi variasi bahasa itu terjadi sebagai akibat dari adanya keragaman sosial dan keragaman fungsi bahasa. Kedua, variasi bahasa itu sudah ada untuk memenuhi fungsinya sebagai alat interaksi dalam kegiatan masyarakat yang beraneka ragam. Kedua pandangan ini dapat saja diterima ataupun ditolak. Yang jelas, variasi bahasa itu dapat diklasifikasikan berdasarkan adanya keragaman sosial dan fungsi kegiatan didalam masyarakat sosial. Namun Halliday membedakan variasi bahasa berdasarkan pemakai (dialek) dan pemakaian (register).
Jenis Ragam Bahasa
Berbagai sumber merincikan ragam bahasa. Ada yang merincikannya dengan membedakan dalam berbagai aspek. Pertama, berdasarkan daerah penggunanya. Ragam daerah sejak lama dikenal dengan nama logat atau dialek. Bahasa yang menyebar luas selalu mengenal logat. Masing-masing dapat dipahami secara timbal balik oleh penuturnya; sekurang-kurangnya oleh penutur dialek yang daerahnya berdampingan. Jika wilayah pemakaiannya orang tidak mudah berhubungan, misalnya karena dipisahkan oleh pegunungan, selat, atau laut, maka lambat-laun logatnya akan membentuk ragam bahasa baru.
Ragam logat/dialek dengan sendirinya erat hubungannya dengan bahasa ibu si penutur. Ciri-ciri yang meliputi tekanan, turun-naiknya nada, dan panjang-pendeknya bunyi bahasa membangun aksen yang berbeda. Logat daerah paling kentara karena tata bunyinya. Logat Indonesia yang dilafalkan oleh orang Tapanuli dan Ambon dapat dikenali karena tekanan kata yang amat jelas.
Sikap penutur terhadap aksen penutur lain berbeda-beda. Aksen itu dapat disenangi dan/atau tidak disenangi. Umumnya dapat dikatakan bahwa kita berlapang hati terhadap kelainan aksen orang selama bahasanya masih dapat dipahami. Mungkin hal ini sebagai pengaruh atas penguasaan bahasa itu yang belum terlalu lama, hingga saat ini masih belum ada proses penyatuan logat yang jelas.
Kedua, berdasarkan tingkat pendidikan penutur. Ragam bahasa menurut pendidikan formal menunjukkan perbedaan yang jelas antara kaum yang berpendidikan formal dan yang tidak. Tatabunyi bahasa golongan yang kedua berbeda dengan tatabunyi kaum terpelajar. Dalam bahasa Indonesia, misalnya, bunyi /f/ dan akhiran /-ks/, misalnya, tidak selalu terdapat dalam ujaran orang yang tidak bersekolah. Kata fakultas, film, fitnah, kompleks yang dikenal oleh orang berpendidikan, bervariasi menjadi pakultas, pilm, pitenah, komplek dalam orang yang tidak menikmati pengajaran bahasa di sekolah. Perbedaan yang lain juga nampak pada tata bahasa. Kalimat Saya mau bayar itu uang ke bank cukup jelas maksudnya, tetapi bahasa yang terpelihara menuntut agar bentuknya menjadi Saya mau membayar uang itu ke bank. Bahasa orang yang berpendidikan berciri pemeliharaan.
Ketiga, berdasarkan sikap penutur. Ragam bahasa Indonesia dalam hal ini mencakup sejumlah corak. Ragam ini, biasa disebut langgam atau gaya, pemilihannya bergantung pada sikap penutur terhadap orang yang diajak berkomunikasi. Sikap ini dipengaruhi antara lain, oleh umur dan kedudukan yang disapa, pokok persoalan yang hendak disampaikannya, dan tujuan penyampaian informasinya. Dalam hal ini, penutur dihadapkan dengan pemilihan bentuk-bentuk bahasa tertentu yang menggambarkan sikap penutur yang kaku, dingin, hambar, hangat, akrab, atau santai. Perbedaan berbagai gaya itu tercermin dalam pilihan kosa kata dan tata bahasa. Meskipun begitu, gaya yang bermacam-macam itu tetap kita kenali. Misalnya, gaya bahasa ketika kita sedang laporan kepada atasan, atau ketika sedang marah, membujuk anak, menulis surat kepada kekasih, mengobrol dengan teman karib.
Keempat, ragam bahasa menurut bidang atau pokok persoalan yang melingkupi penutur. Setiap penutur bahasa hidup dan bergerak dalam sejumlah bidang kehidupan sehingga penutur harus memilih salah satu ragam yang berkaitan atau cocok dengan bidang yang dikuasainya. Bidang yang dimaksud itu, misalnya, agama, politik, teknologi, pertanian, seni, olah raga, hukum, dll.
Kelima, ragam bahasa menurut sarananya terbagi atas ragam lisan atau ujaran dan ragam tulisan. Ragam lisan lebih dahulu dikuasai oleh penggunanya sedangkan ragam lisan diperoleh kemudian. Dalam ragam tulis, orang yang diajak berkomunikasi tidak ada dihadapan kita. Akibatnya, bahasa kita perlu lebih jelas karena tulisan kita tidak dapat disertai oleh gerak isyarat, pandangan, atau anggukan tanda penegasan di pihak kita atau pemahaman di pihak lain yang kita ajak berkomunikasi. Itulah sebabnya, kalimat dalam ragam tulisan harus lebih cermat sifatnya. Fungsi tata bahasa, seperti subjek, predikat, dan objek, serta hubungan di antara fungsi itu, harus jelas. Dalam ragam ujaran, karena penutur bersemuka/berhadapan, fungsi itu dapat ditinggalkan.
Halliday merincikannya sebagai berikut:
a.         Variasi dari Segi Pemakai/Penutur: Idiolek, dialek, kronolek, sosiolek
b.         Variasi dari Segi Pemakaian, yakni bahasa digunakan untuk keperluan atau bidang apa. Misalnya, bidang sastra, jurnalistik, pertanian, militer, pelayaran, pendidikan, dsb.
c.         Variasi dari Segi Keformalan. Dalam hal ini variasi bahasa dibagi menjadi lima macam gaya (ragam), yaitu ragam beku (frozen); ragam resmi (formal); ragam usaha (konsultatif); ragam santai (casual); ragam akrab (intimate).
d.         Variasi dari Segi Sarana. Dalam hal ini terdapat ragam lisan dan tulis atau juga ragam dalam berbahasa dengan menggunakan sarana atau alat tertentu, misalnya bertelepon atau bertelegraf.
Beberapa Istilah dalam Ragam Bahasa
1.         Bahasa Standar
Bahasa standar adalah bahasa yang memiliki norma tertentu sebagai patokan atas ragam yang lain. Bahasa standar atau bahasa baku digunakan sebagai bahasa persatuan dalam masyarakat bahasa yang mempunyai banyak bahasa. Bahasa baku umumnya ditegakkan melalui kamus (ejaan dan kosakata), tata bahasa, pelafalan, lembaga bahasa, status hukum, serta penggunaan di masyarakat (pemerintah, sekolah, dll).
Bahasa baku tidak dapat dipakai untuk segala keperluan, tetapi hanya untuk komunikasi resmi, wacana teknis, pembicaraan di depan umum, dan pembicaraan dengan orang yang dihormati. Di luar keempat penggunaan itu, dipakai ragam takbaku.
2.         Idiolek
Idiolek merupakan variasi bahasa yang bersifat perseorangan. Setiap orang mempunyai idiolek masing-masing. Idiolek ini berkenaan dengan “warna” suara, pilihan kata, gaya bahasa, susunan kalimat, dsb. Yang paling dominan adalah warna suara, kita dapat mengenali suara seseorang yang kita kenal hanya dengan mendengar suara tersebut Idiolek melalui karya tulis pun juga bisa, tetapi disini membedakannya agak sulit.
3.         Dialek
Dialek yaitu variasi bahasa dari sekelompok penutur yang berada di suatu tempat atau area tertentu. Bidang studi yang mempelajari tentang variasi bahasa ini adalah dialektologi. Variasi ini berbeda satu sama lain dalam sekelompok penutur itu, tetapi masih banyak menunjukkan kemiripan sehingga belum pantas disebut bahasa yang berbeda. Biasanya pemerian dialek adalah berdasarkan geografi, namun bisa berdasarkan faktor lain, misalkan faktor sosial.
Sebuah dialek dibedakan berdasarkan kosa kata, tata bahasa, dan pengucapan (fonologi, termasuk prosodi). Jika pembedaannya hanya berdasarkan pengucapan, maka istilah yang tepat ialah aksen dan bukan dialek.
Jenis dialek
Berdasarkan pemakaian bahasa, dialek dibedakan menjadi berikut:
          Dialek regional: varian bahasa yang dipakai di daerah tertentu. Misalnya, bahasa Melayu dialek Ambon, dialek Jakarta, atau dialek Medan.
          Dialek sosial: dialek yang dipakai oleh kelompok sosial tertentu atau yang menandai strata sosial tertentu. Misalnya, dialek remaja.
          Dialek temporal, yaitu dialek yang dipakai pada kurun waktu tertentu. Misalnya, dialek Melayu zaman Sriwijaya dan dialek Melayu zaman Abdullah.
          Idiolek, keseluruhan ciri bahasa seseorang yang khas pribadi dalam lafal, tata bahasa, atau pilihan dan kekayaan kata.
4.         Kronolek
Kronolek atau dialek temporal, yaitu variasi bahasa yang digunakan oleh kelompok sosial pada masa tertentu. Sebagai contoh, variasi bahasa Indonesia pada masa tahun tiga puluhan, lima puluhan, ataupun saat ini.
5.         Sosiolek
Sosiolek (dari sosial dan dialek) adalah ragam bahasa yang terkait dengan suatu kelompok sosial tertentu. Sosiolek antara lain terjadi pada berbagai kelompok masyarakat menurut kelas sosial, usia, serta pekerjaan. Contohnya adalah perbedaan bahasa antara masyarakat kelas atas dan kelas bawah, remaja dan orang tua, serta antara dokter dan pengacara.
Sosiolek atau dialek sosial, yaitu variasi bahasa yang berkenaan dengan status, golongan dan kelas sosial para penuturnya. Dalam sosiolinguistik variasi inilah yang menyangkut semua masalah pribadi penuturnya, seperti usia, pendidikan, keadaan sosial ekonomi, pekerjaan, seks, dsb. Sehubungan dengan variasi bahasa yang berkenaan dengan tingkat, golongan, status, dan kelas sosial para penuturnya disebut dengan prokem.
6.         Register
A register is a variety of a language used for a particular purpose or in a particular social setting ‘berbagai bahasa yang digunakan untuk tujuan tertentu atau dalam lingkungan sosial tertentu’. Variasi ini biasanya dibicarakan berdasarkan bidang penggunaan, gaya, atau tingkat keformalan dan sarana penggunaan. Variasi bahasa berdasarkan bidang pemakaian ini adalah menyangkut bahasa itu digunakan untuk keperluan atau bidang apa. Misalnya, bidang sastra, jurnalistik, pertanian, militer, pelayaran, pendidikan, dsb. Berdasarkan gaya contohnya, ketika menyapa lawan bicara digunakan kata “kamu” untuk yang sebaya/lebih rendah statusnya atau “anda” untuk yang lebih tinggi.
7.         Ragam Beku
Ragam beku adalah variasi bahasa yang paling formal, yang digunakan dalam situasi khidmat dan upacara resmi. Misalnya, dalam khotbah, undang-undang, akte notaris, sumpah, dsb.
8.         Ragam Resmi
Ragam resmi adalah variasi bahasa yang digunakan dalam pidato kenegaraan, rapat dinas, ceramah, buku pelajaran, dsb.
9.         Ragam Usaha
Ragam usaha adalah variasi bahasa yang lazim digunakan pembicaraan biasa di sekolah, rapat-rapat, ataupun pembicaraan yang berorientasi kepada hasil atau produksi. Wujud ragam ini berada diantara ragam formal dan ragam informal atau santai.
10.       Ragam Santai
Ragam santai adalah variasi bahasa yang digunakan dalam situasi tidak resmi untuk berbincang-bincang dangan keluarga atau teman pada waktu beristirahat, berolahraga, berekreasi, dsb. Ragam ini banyak menggunakan bentuk alegro, yakni bentuk ujaran yang dipendekkan.
11.       Ragam Akrab
Ragam akrab adalah variasi bahasa yang biasa digunakan oleh para penutur yang hubngannya sudah akrab, seperti antar anggota keluarga, atau teman karib. Ragam ini menggunakan bahasa yang tidak lengkap dengan artikulasi yang tidak jelas.
12.       Ragam Lisan dan Tulisan
Bahasa yang dihasilkan melalui alat ucap (organ of speech) dengan fonem sebagai unsur dasar dinamakan ragam bahasa lisan, sedangkan bahasa yang dihasilkan dengan memanfaatkan tulisan dengan huruf sebagai unsur dasarnya, dinamakan ragam bahasa tulis. Jadi dalam ragam bahasa lisan, kita berurusan dengan lafal, dalam ragam bahasa tulis, kita berurusan dengan tata cara penulisan (ejaan). Selain itu aspek tata bahasa dan kosa kata dalam kedua jenis ragam itu memiliki hubungan yang erat. Ragam bahasa tulis yang unsur dasarnya huruf, melambangkan ragam bahasa lisan. Oleh karena itu, sering timbul kesan bahwa ragam bahasa lisan dan tulis itu sama. Padahal, kedua jenis ragam bahasa itu berkembang menjdi sistem bahasa yang memiliki seperangkat kaidah yang tidak identik benar, meskipun ada pula kesamaannya. Meskipun ada keberimpitan aspek tata bahasa dan kosa kata, masing-masing memiliki seperangkat kaidah yang berbeda satu dari yang lain.
Dalam penggunaan ragam bahasa baku tulis makna kalimat yang diungkapkannya tidak ditunjang oleh situasi pemakaian, sedangkan ragam bahasa baku lisan makna kalimat yang diungkapkannya ditunjang oleh situasi pemakaian sehingga kemungkinan besar terjadi pelesapan unsur kalimat. Oleh karena itu, dalam penggunaan ragam bahasa baku tulis diperlukan kecermatan dan ketepatan di dalam pemilihan kata, penerapan kaidah ejaan, struktur bentuk kata dan struktur kalimat, serta kelengkapan unsur-unsur bahasa di dalam struktur kalimat.
13.       Diglosia
Diglosia adalah suatu situasi bahasa di mana terdapat pembagian fungsional atas variasi-variasi bahasa atau bahasa-bahasa yang ada di masyarakat. Dalam situasi diglosia akan kita jumpai adanya tingkat-tingkat bahasa dalam beberapa bahasa daerah di Indonesia, seperti bahasa Jawa, Sunda, Bali, Madura, yang masing-masing mempunyai nama. Dengan demikian diglosia itu mengacu kepada kondisi dua ragam dalam satu bahasa hidup berdampingan dalam guyup bahasa, dan masing-masing ragam itu mempunyai peran atau fungsi tertentu.
14.       Pidgin
Bahasa pijin atau pidgin adalah sebuah bentuk bahasa kontak yang digunakan oleh orang-orang dengan latar belakang bahasa yang berbeda-beda. Sebuah pijin biasanya memiliki tatabahasa yang sangat sederhana dengan kosakata dari bahasa yang berbeda-beda. Sebuah pijin tidak memiliki penutur bahasa ibu. Jika memiliki penutur asli maka bahasa ini disebut bahasa kreol.
Kebanyakan bahasa memiliki penutur asli. Pidgin adalah bahasa yang tidak memiliki penutur asli. Pidgin tidak pernah menjadi bahasa pertama dari sebuah kelompok masyarakat. Pidgin hanyalah bahasa untuk melakukan kontak sosial. Dengan kata lain, pidgin lahir dari sebuah situasi multibahasa. Dalam situasi seperti ini, para individu mencari bahasa yang bentuknya sederhana. Oleh karena bentuknya sederhana, bahasa itu dapat dipahami oleh orang lain juga. Pidgin acapkali disebut sebagai bahasa normal yang ‘disunat’ atau disederhanakan.
15.       Kreol
Bahasa kreol adalah keturunan dari bahasa pijin yang menjadi bahasa ibu bagi sekelompok orang yang berasal dari latar belakang berbeda-beda. Bahasa-bahasa kreol yang ada di dunia menunjukkan adalah kesamaan, khususnya dari segi tata bahasa yang mengarah pada bahasa universalnya (pidgin). Contoh kreol Melayu, yakni: Betawi, Melayu Ambon, Melayu Manado, Melayu Ternate, Melayu Banda, Melayu Kupang, dll.
16.       Aksen/Logat
Aksen adalah pelafalan khas yang menjadi ciri seseorang sesuai dengan asal daerah ataupun suku bangsa (logat). Kekhasan itu pada cara mengucapkan kata (aksen) atau lekuk lidah. Logat dapat mengidentifikasi lokasi dimana pembicara berada, status sosial-ekonomi, dan lain lainnya.
B.         Kelas Sosial
Kelas sosial atau golongan sosial merujuk kepada perbedaan hierarkis (atau stratifikasi) antara insan atau kelompok manusia dalam masyarakat atau budaya. Biasanya kebanyakan masyarakat memiliki golongan sosial, namun tidak semua masyarakat memiliki jenis-jenis kategori golongan sosial yang sama. Berdasarkan karakteristik stratifikasi sosial, dapat kita temukan beberapa pembagian kelas atau golongan dalam masyarakat. Beberapa masyarakat tradisional pemburu-pengumpul, tidak memiliki golongan sosial dan seringkali tidak memiliki pemimpin tetap pula. Oleh karena itu masyarakt seperti ini menghindari stratifikasi social. Dalam masyarakat seperti ini, semua orang biasanya mengerjakan aktivitas yang sama dan tidak ada pembagian pekerjaan.
Secara harfiah kelas sosial sering juga mengacu kepda golongankepada masyarakat yang yang mempunyai kesamaan atau perbedaan dalam bidang kemasyarakatan seperti Ekonomi, Pekerjaan, Pendidikan, Kedudukan, Kasta, dan Sebagainya. Perbedaan menurut bidang ini pun masih memiliki kelas sosial, misalnya dalam bidang Ekonomi, yakni kelas sosila ekonomi mampu dan tidak mampu. Dalam bidang Pekerjaan pun terdapat kelas sosial yakni kelas para petinggi (direktur dan semacamnya) dan kelas pekerja kasar (anak buah).
Jika dikaitkan dengan bahasa bisa  kita mengambil beberapa contoh sebagai berikut:
1.         Bahasa Jawa
Bahasa Jawa mengenal undhak-undhuk basa dan menjadi bagian integral dalam tata krama (etiket) masyarakat Jawa dalam berbahasa. Dialek Surakarta biasanya menjadi rujukan dalam hal ini. Bahasa Jawa bukan satu-satunya bahasa yang mengenal hal ini karena beberapa bahasa Austronesia lain dan bahasa-bahasa Asia Timur seperti bahasa Korea dan bahasa Jepang juga mengenal hal semacam ini. Dalam sosiolinguistik, undhak-undhuk merupakan salah satu bentuk register.
Terdapat tiga bentuk utama variasi, yaitu ngoko ("kasar"), madya ("biasa"), dan krama  ("halus"). Di antara masing-masing bentuk ini terdapat bentuk "penghormatan" (ngajengake,honorific) dan "perendahan" (ngasorake, humilific). Seseorang dapat berubah-ubah registernya pada suatu saat tergantung status yang bersangkutan dan lawan bicara. Status bisa ditentukan oleh usia, posisi sosial, atau hal-hal lain. Seorang anak yang bercakap-cakap dengan sebayanya akan berbicara dengan varian ngoko, namun ketika bercakap dengan orang tuanya akan menggunakan krama andhap dan krama inggil. Sistem semacam ini terutama dipakai di Surakarta, Yogyakarta, dan Madiun. Dialek lainnya cenderung kurang memegang erat tata-tertib berbahasa semacam ini.
Sebagai tambahan, terdapat bentuk bagongan dan kedhaton, yang keduanya hanya dipakai sebagai bahasa pengantar di lingkungan keraton. Dengan demikian, dikenal bentuk-bentuk ngoko lugu, ngoko andhap, madhya, madhyantara, krama, krama inggil, bagongan, kedhaton.
Di bawah ini disajikan contoh sebuah kalimat dalam beberapa gaya bahasa yang berbeda-beda ini.
Bahasa Indonesia: "Maaf, saya mau tanya rumah Kak Budi itu, di mana?"
1.         Ngoko kasar: “Eh, aku arep takon, omahé Budi kuwi, nèng*ndi?’
2.         Ngoko alus: “Aku nyuwun pirsa, dalemé mas Budi kuwi, nèng endi?”
3.         Ngoko meninggikan diri sendiri: “Aku kersa ndangu, omahé mas Budi kuwi, nèng ndi?” (ini dianggap salah oleh sebagian besar penutur bahasa Jawa karena menggunakan leksikon krama inggil untuk diri sendiri)
4.         Madya: “Nuwun sèwu, kula ajeng tanglet, griyané mas Budi niku, teng pundi?” (ini krama desa (substandar)
5.         Madya alus: “Nuwun sèwu, kula ajeng tanglet, dalemé mas Budi niku, teng pundi?” (ini juga termasuk krama desa (krama substandar))
6.         Krama andhap: “Nuwun sèwu, dalem badhé nyuwun pirsa, dalemipun mas Budi punika, wonten pundi?” (dalem itu sebenarnya pronomina persona kedua, kagungan dalem 'kepunyaanmu'. Jadi ini termasuk tuturan krama yang salah alias krama desa)
7.         Krama lugu: “Nuwun sewu, kula badhé takèn, griyanipun mas Budi punika, wonten pundi?”
8.         Krama alus “Nuwun sewu, kula badhe nyuwun pirsa, dalemipun mas Budi punika, wonten pundi?”
nèng adalah bentuk percakapan sehari-hari dan merupakan kependekan dari bentuk baku ana ing yang disingkat menjadi (a)nêng.
Dengan memakai kata-kata yang berbeda dalam sebuah kalimat yang secara tatabahasa berarti sama, seseorang bisa mengungkapkan status sosialnya terhadap lawan bicaranya dan juga terhadap yang dibicarakan. Walaupun demikian, tidak semua penutur bahasa Jawa mengenal semuanya register itu. Biasanya mereka hanya mengenal ngoko dan sejenis madya.
2.         Bahasa Madura
Sama halnya dengan bahasa Jawa, bahasa madura pun memilki kelas atau tingkatan dalam hal penggunaannya. Karena memiliki tiga varian bahasa yakni bahasa Enje’-Iyeh (kasar), Enggi-Enten (biasa),dan Enggi-Bhunten (halus).
Kelas bahasa ini sangat mudah kita jumpai jika kita berada di sekitar lingkungan pondok pesantren yang ada di Madura. Dapat dijelaskan, dalam perkataan sesama santri mereka memakai bahasa “kasaran” yakni enje’-iyeh, dan jika santri dengan pengurus pesantren para santri menggunakan bahasa enggi-enten, dan jika santri dengan kiai maka para santri harus menggunakan bahasa enggi-bhunten. Itu jika di lingkungan pesantren, yang masih sangat kental dan merupaka tempat untuk belajar tatakrama dalam bertingkah laku ataupun berbicara dengan sesama ataupun orang yang lebih tua. Namun, kelas ini sangat fleksibel sama halnya dengan bahasa jawa, tapi tidak sekongkrit bahasa Jawa.
Bahasa Indonesia: "Maaf, saya mau tanya rumah Kak Budi itu, di mana?"
a.         Enje’-iyeh terhadap ...
          Sesama: “Eh, sengko’ atanya ah, romanahcak Budi juah, e dimmah?”
          Orang yang lebih tua: “Ta’ langkong saporanah, kaula atanya ah compok nah cak Budi e kimmah gi ?”
          Orang Tua/ Guru/ Kiai (orang yang dihormati):“yu’un saporah pak, buleh/ abdinah atanya ah dhalem mah cak Budi, e ka immah gi ?”
b.         Enggi-Enten
          Sesama : manabi roma nah budi e dimmah gi?
          Orang yang lebih tua: tak langkong gi, kaula apkonah compok nah cak Budi e kimmah gi ?
          Orang Tua/ Guru/ Kiai (orang yang dihormati):  “yu’un pangaporah nah, buleh/ abdinah terro oneng ngah dhalem mah cak Budi, e ka immah gi ?”
c.         Enggi-Bhunten
Dalam kelas ini hanya di kenal dengan kelas sesama saja, karena yang menggunakan bahasa ini hanya orang-orang sesepuh atau para kiai terhadap kiai. Namun dalam kasus kelas bahasa ini ada sistem kebalikan yaitu bagaimana bicara dengan sesama, dan dengan yang lebih muda saja.
          Sesama: tak langkong, kaula alenggi yeh de’ ka compok nah cak budi, e dimmah gi ?
          Yang lebih muda : eh, engko’ atanya ah, e dimmah roma nah Budi ?
Catatan:
Dalam penggunaan bahasa Madura, ini sangat dipenbgaruhi oleh tindak kesopanan, jika dari anak muda berbicara pada sesama bisa menggunakan bahasa Enje’-Iyeh, sedangkan dengan orang yang lebih tua menggunakan kelas bahasa Enggi-Entenatau pun Enggi-Bhunten, dan jika berbicara dengan orang yang sangat dihormati seperti Orang Tua, Guru, Atau Kiai menggunakan bahasa Enggi-Bhunten.
Namun jika sebaliknya jika orang tua atau sesepuh, guru atau kiai yang berbicara pada anak muda, mereka tidak diharuskan memakai bahasa Enggi-Enten atau pun Enggi Bhunten. Karena jika seorang tersebut memakai bahasa tersebut terkesan merendahkan, meski bahasa yang digunakan adalah bahasa enggi-bhunten. Dan jika kepada sesama bebas memakai kelas bahasa apapun.
Jadidapat disimpulkan bahwa kelas sosial di dalam bahasa itu merupakan sebuah peraturan atau tatak rama dalam berbicara kepada orang lain, yang biasa di kenal dengan tindak tutur kesopanan dalam berbicara. Banyak teori yang sudah dikemukakan tentang kelas sosial bahasa ini. Seperti penelitian William Labov, yang memasukkan dimensi sosial ke dalam dialektologi. Kemudian ada kelas sosial dengan ragam baku ini terdapat di Inggris. Dan ada lagi Teori Bernstein yang mengemukakan pendapat bahwa ada dua ragam bahasa penutur yakni kode terperinci dan kode terbatas. Selain itu ada hipotesis dari Sapir Whort yang berbunyi “pandangan manusia tentang lingkungannya dapat di tentukan oleh bahawanya”.
Daftar Referensi
Gowdy, John. 2006. “Hunter-gatherers and the mythology of the market" in Richard B. Lee and Richard H. Daly (eds.), The Cambridge Encyclopedia of Hunters and Gatherers, pp.391-394. New York: Cambridge University Press
Habermas, J. 2006. "The European Nation State - Its Achievments and Its Limits. On the Past and Future Sovereignty and Citizenship", in G. Balakrishan (ed.) Mapping the Nation. London: Vernon. 281 - 294
http://azhararief.wordpress.com/2008/08/27/variasi-bahasa-dalam-sosiolinguistik/
http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Indonesia
http://id.wikipedia.org/wiki/Ragam_bahasa
http://intl.feedfury.com/content/15241462-ragam-bahasa.html
http://macuy-marucuy.blogspot.com/2009/10/pengertian-ragam-bahasa-dan-hal-hal.html
http://newspaper.pikiran-rakyat.com/Menimbang-nimbang Bahasa Cirebon (Edisi Tahun 2009). Html.
http://uzi-online.blogspot.com/2011/10/ragam-bahasa.html
Hudson, R.A. 1985. Sociolinguistics. Cambridge: Cambridge University Press.
Meecham, Marjorie and Janie Rees-Miller. 2001. Language in social contexts. In W. O'Grady, J. Archibald, M. Aronoff and J. Rees-Miller (eds) Contemporary Linguistics. pp. 537-590. Boston: Bedford/St. Martin's.
Poerwodarminto, WJS. 1988. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Pendahuluan KBBI edisi ketiga.
Uhlenbeck, E.M. 1964. A Critical Survey of Studies on the Languages of Java and Madura. The Hague: Martinus Nijhoff
Sumarsono dan Paina Partana. 2002. Sosiolingui

0 komentar:

Poskan Komentar