Bahasa Laki-Laki dan Perempuan dalam Bahasa Jepang

Posted by joko yulianto Minggu, 15 April 2012 0 komentar


Bahasa  Laki-Laki dan Perempuan dalam Bahasa Jepang
Emiko Watanabe (117835601)
a.            Pendahuluan
                Dalam bahasa Jepang terdapat dua buah dialek sosial yang berbeda berdasarkan diferensiasi jender penuturnya yaitu ragam bahasa perempuan (joseigo, onna kotoba) dan ragam bahasa laki-laki (danseigo, otoko kotoba). Meskipun kedua ragam bahasa ini sedikit demi sedikit hilang karena oleh perubahan zaman, tetapi ada bagian yang masih tetap bertahan dan dipakai oleh masyarakat penutur bahasa Jepang hingga sekarang. Kalau zaman dulu laki-laki Jepang pasti menggunakan bahasa laki-laki, tetapi pada zaman sekarang ada banyak anak perempuan SMP dan SMA yang menggunakan bahasa laki-laki. Demikian juga pada zaman dulu perempuan menggunakan bahasa perempuan, tetapi kalau zaman sekarang perempuan yang menggunakan bahasa perempuan adalah perempuan yang bersifat sopan dan lembut, dan kadang-kadang ada laki-laki yang menggunakan bahasa perempan juga.
                Memang pada suasana tuturan formal seperti pada acara rapat, seminar, simposium, dan kegiatan formal lainnya sama sekali tidak bisa terdengar kedua ragam bahasa ini. Tetapi pada percakapan sehari-hari yang tidak resmi kadang-kadang bisa terdengar pemakaian bahasa ini dari orang-orang Jepang pada kalangan tertentu. Demikian juga pada saat perkenalan atau pertemuan pertama dengan orang Jepang, percakapan dilakukan dengan menggunakan ragam standar. Tetapi semakin lama  bergaul dengan orang Jepang, terutama apabila hubungan dengan orang Jepang sudah sangat akrab, sedikit demi sedikit akan terjadi perubahan variasi bahasa yang dipakai termasuk ke dalam ragam bahasa wanita dan ragam bahasa laki-laki. Tidak sedikit kedua ragam bahasa tersebut dipakai dalam novel karena kalau menggunakan bahasa laki-laki dan perempuan sangat mudah dipahami tokoh dalam novel ini laki-laki atau perumpuan.
                Dalam makalah ini, akan dibahas tentang sejarah, jenis, peran bahasa laki-laki dan perempuan, dan perubahan bahasa perempuan dan laki-laki oleh perubahan zaman.


b.            Pembahasan
                Jender merupakan perbedaan jenis kelamin laki-perempuan yang dibentuk secara sosial dan kultural (Tadao, 1995 : 911). Dari zaman dulu di Jepang laki-laki sering dikatakan cepat mengambil keputusan, rasional, egois, atau agresif. Sementara perempuan sering dikatakan lemah, lembut, sopan santun, pasif, dan penuh perhatian.  Laki-laki dan perempuan masing-masing dilambangkan dengan kanji yang berbeda. Laki-laki dilambangkan dengan huruf yang mengandung unsur kanji yang berarti ‘sawah’ dan ‘tenaga’ yang menggambarkan perannya sebagai orang yang bekerja sekuat tenaga memproduksi padi di sawah untuk menyokong kehidupan bangsa guna membangun negara. Pekerjaan mulia ini dianggap milik laki-laki walaupun pada kenyataannya banyak juga perempuan yang turut bekerja di sawah. Berbeda dengan laki-laki, perempuan ditulis dengan huruf yang melambangkan orang yang sedang menari. Hal ini memberi gambaran sosok wanita yang berperan sebagai penghibur orang (laki-laki). Seolah-olah mereka dijadikan objek kesenangan atau kepuasaan orang yang melihatnya.
                Dalam pembentukan kata pun perempuan terlihat tidak mendapat prioritas utama. Kata danjo (Laki-Perumpuan) tidak dapat diubah menjadi jodan dengan harapan mendahulukan unsur perempuannya. Sama dengan danjo, kata-kata fubo (ayah-ibu), fuufu (suami-istri) tidak bisa dibalikkan menjadi bofu, fufuu. Kata fukei yang berarti orang tua/wali murid berasal dari kata chichi (ayah) dan ani (kakak laki-laki). Begitu juga kata kyoodai yang berarti keluarga/saudara berasal dari kata ani (kakak laki-laki) dan otooto (adik laki-laki). Walaupun fukei berarti ‘orang tua/wali murid’ dan kyoodai berarti ‘keluarga/saudara’ namun di dalamnya tidak terkandung unsur ‘perempuan’ baik ibu, kakak perempuan, maupun adik perempuan.
                Seperti ditulis di atas, dari zaman dulu di Jepang sangat jelas dibedakan posisi, peran laki-laki dan perempuan, maka dibentuk bahasa laki-laki dan perempuan. Namun, kedua ragam bahasa ini berubah terus dengan arus zaman. Asal bahasa laki-laki yang sering dipakai sekarang adalah bahasa Samurai Zaman Edo (Edo-Jidai). Samurai ( atau ) adalah istilah untuk perwira militer kelas elit sebelum zaman industrialisasi di Jepang. Kata "samurai" berasal dari kata kerja "samorau" asal bahasa Jepang kuno, berubah menjadi "saburau" yang berarti "melayani", dan akhirnya menjadi "samurai" yang bekerja sebagai pelayan bagi sang majikan. Ciri khas bahasa laki-laki adalah variasi kata ganti pertama. Misalnya, “Ore”, “Boku”, “Washi”, “Oira” dan lain-lain. Kara ganti pertama dalam bahasa perempuan adalah “Watashi” dan “Watakushi”. Dilihat dari aspek pemakaian akhir kalimat terdapat beberapa perbedaan antara yang dipakai laki-laki dan yang dipakai perempuan. Di dalam ragam bahasa laki-laki dipakai seperti zo, ze, kai, dazo, daze, sedangkan di dalam ragam bahasa perempuan dipakai kashira, wa, wayo, wane, no, noyo, none, dan kotoyo. Zo, ze, kai, dazo, daze, dan sebagainya dalam ragam bahasa laki-laki merefleksikan maskulinitas penuturnya sebagai insan yang sangat tegas, berani, kuat, penuh percaya diri, penuh kepastian, atau cepat dalam mengambil keputusan. Berbeda dengan partikel-partikel itu, partikel-partikel kashira, wa, wayo, wane, no, noyo, none, koto, dan kotoyo yang dipakai dalam ragam bahasa perumpuan menjadikan bahasa yang diucapkan lemah lembut dan tidak menunjukkan ketegasan atau kekuatan. Partikel-partikel itu dipakai untuk menghaluskan atau melemahkan pendapat, kesimpulan, keputusan, pikiran, atau pertanyaan penuturnya sehingga mereka terkesan ramah tamah dan sopan santun. Dalam penggunaan kata benda juga perbedaan bahasa laki-laki dan perempuan sangat jelas. Dalam bahasa Perempuan di depan kata benda menggunakan “O”. Misalnya, “Sushi” menjadi “Osushi”, “Cha(teh)” menjadi “Ocha”, “Hana(bunga)” menjadi “Ohana” dan lain-lain. Dalam bahasa sopan juga, terlihat perbedaan bahasa laki-laki dan perumpuan.
                Seperti ada di atas, dari zaman dulu bahasa Jepang dibagi bahasa laki-laki dan perempuan dengan jelas. Akan tetapi, sedikit demi sedikit fenomina tersebut berubah dengan arus zaman. Dulu peran perempuan Jepang adalah menjaga rumah sebagai ibu rumah tangga. Namun, zaman sekarang perempuan pun bisa bekerja seperti laki-laki. Peran perempuan dan laki-laki tidak seperti dulu, maka bahasa antara laki-laki dan perempuan juga berubah. Banyak perempuan Jepang yang muda tidak mau menggunakan bahasa perempuan. Bahasa laki-laki menjadi bahasa Jepang yang sering dipakai oleh orang Jepang, baik laki-laki maupun perempuan zaman sekarang.


c.             Simpulan
                Bahasa mengrefleksikan lingkungan masyarakat. Begitu juga bahasa Jepang, yang mengandung nilai-nilai seksis, dapat merefleksikan nilai-nilai, sikap, atau pandangan masyarakat Jepang terhadap laki-laki dan perempuan. Akan tetapi, dengan arus zaman bahasa perempuan jaran dipakai oleh perempuan Jepang karena peran perempuan juga berubah. Perempuan bukan hanya bekerja di rumah lagi. Perubahan itu ada sisi positif dan sisi negatif. Sisi positif adalah perempuan bisa mendapatkan kebebasan seperti laki-laki. Sedangkan sisi negatif adalah menghilang kebudayaan tradisional.


Daftar Pustaka

Nihongo Daijiten, Tadao, Umesao Kodansha, 1995, Tokyo.
Jyosei-go, http://ja.wikipedia.org/wiki/%E5%A5%B3%E6%80%A7%E8%AA%9
Samurai, http://ja.wikipedia.org/wiki/%E4%BE%8D
Nihongo no kokoro, Yumiko Yamada, Hikari 1985, Tokyo

0 komentar:

Poskan Komentar