Teori Struktur Levi Strauss terhadap Mitos Raja Malwopati

Posted by joko yulianto Selasa, 19 Juni 2012 0 komentar

Teori Struktur Levi Strauss terhadap Mitos Raja Malwopati
Oleh : joko yulianto
Pendahuluan
Teori struktur levi strauss adalah teori yang mempelajari tentang mitos yang terjadi di suatu masyarakat, teori Levi Strauss menganggap bahwa berbagai aktivitas sosial dan hasilnya seperti misalnya dongeng, upacara-upacara, sistem kekerabatan dan perkawinan, pola tempat tinggal, pakaian, dan sebagainya semuanya dapat dikatakan sebagai bahasa atau lebih tepatnya merupakan perangkat tanda dan simbol yang menyampaikan pesan-pesan tertentu. Teori levi strauss ini mencoba membaca pesan-pesan yang terkandung dalam mitos raja malowopati. Dari cerita atau mitos yang terkandung dalam cerita angling darma terdapat beberapa pesan yang ingin disampaikan. Yang pertama adalah pesan adat atau kepercayaan yang menyebabkan dewi setyowati rela berkorban untuk masuk kedalam kobaran api, kedua pesan ketika seorang menjadi pemimpin harus bersikap bijak, yang ketiga adalah nilai tentaang sebuah janji dan kesetiaan yang mengakibatkan sang prabu angling darma dikutuk menjadi burung belibis.
Teori Struktur levi Strauss
Secara umum, istilah strukturalisme banyak dikenal dalam Filsafat Sosial. Filsafat Eropa modern sering menyebut bahwa strukturalisme adalah sebuah fenomena sosial. Lebih lanjut dikatakan bahwa fenomena itu tidak peduli seberapa dangkal ragam wujudnya. Secara singkat, strukturalisme adalah fenomena social yang secara internal dihubungkan dan diatur sesuai dengan beberapa pola yang tidak disadari.
Hubungan-hubungan internal dan pola merupakan struktur, dan mengungkap struktur-struktur ini adalah objek studi levis strauss pada umumnya, sebuah struktur bersifat utuh, transformasional, dan meregulasi diri sendiri (self-regulatory). Strukturalisme adalah metodologi yang menekankan struktur daripada substansi dan hubungan dari pada hal, Hal ini menyatakan bahwa sesuatu selalu keluar hanya sebagai elemen dari penanda suatu sistem.
Metodologi Struktural sesungguhnya berasal dari struktural linguistik dari Saussure, yang menggambarkan bahwa bahasa sebagai sebuah tanda dari aturan sistem sosial. Baru pada tahun 1940, ia mengusulkan bahwa fokus yang tepat penyelidikan antropologi harus dapat mendasari pola-pola pemikiran manusia yang menghasilkan kategori budaya yang mengatur pandangan dunia sampai sekarang. Kemudian pada tahun 1960, Claude Levi-Strauss melanjutkan metodologi ini, tidak hanya untuk antropologi (strukturalisme antropologi) tetapi memang dipakai untuk penanda semua sistem.
Levi-Strauss  dianggap sebagai pendiri strukturalisme modern. Karena melalui karyanya-karyanya lah, strukturalisme menjadi tren intelektual terutama di Eropa Barat, khususnya Perancis, dan cara pandang levi-strauss sangat mempengaruhi studi tentang ilmu antropologi dengan ilmu-ilmu yang lainnya yang terus berkembang.
Ahli antropologi mungkin menemukan proses berpikir yang mendasari perilaku manusia dengan memeriksa hal-hal seperti kekerabatan, mitos, dan bahasa. Lebih lanjut, bahwa ada realitas tersembunyi di balik semua ekspresi budaya. Selanjutnya strukturalis bertujuan untuk memahami makna yang mendasari pemikiran manusia yang terungkap melalui aktivitas budaya. Pada dasarnya, unsur-unsur budaya yang tidak jelas dalam dan dari dirinya sendiri, melainkan merupakan bagian dari sistem yang berarti. Sebagai model analitis, strukturalisme menganggap universalitas proses pemikiran manusia dalam upaya untuk menjelaskan “struktur dalam” atau makna yang mendasari yang ada dalam fenomena budaya.
Sebagai suatu aliran pemikiran baru dalam antropologi, struturalisme memiliki sejumlah asumsi dasar yang berbeda dengan aliran pemikiran lain dalam antropologi. Strukturalisme Levi Strauss menganggap bahwa berbagai aktivitas sosial dan hasilnya seperti misalnya dongeng, upacara-upacara, sistem kekerabatan dan perkawinan, pola tempat tinggal, pakaian, dan sebagainya semuanya dapat dikatakan sebagai bahasa (Lane dalam Ahimsa-Putra, 2001: 67)
Levi Strauss (dalam Endraswara, 2005:215) menyatakan bahwa dalam pandangan struktural, akan mampu melihat fenomena sosial budaya yang mengekspresikan seni, ritual, dan pola-pola kehidupan. Hal ini merupakan representasi struktur luar yang akan menggambarkan dalam  human mind. Dalam kaitan ini Levi Strauss (dalam Endraswara, 2005:232) menjelaskan bahwa dalam mitos terdapat hubungan unit-unit (yang merupakan struktur) yang tidak terisolasi, tetapi merupakan kesatuan relasi-relasi hubungan tersebut dapat dikombinasikan dan digunakan untuk mengungkap makna di balik mitos itu. Dalam kaitan ini, analisis mitos seperti hanya mempelajari sinar-sinar terbias ke dalam mitem dan sekuen yang kemudian dipadukan ke dalam struktur tunggal.
Dalam analisisnya terhadap mitos (dongeng), Levi Strauss banyak terpengaruh oleh ilmu bahasa. Terdapat beberapa asumsi mengapa bahasa dijadikan sebagai landasan memahami mitos. Pertama, dongeng, upacara-upacara, sistem kekerabatan dan perkawinan, pola tempat tinggal, pakaian, dan sebagainya, secara formal dianggap sebagai bahasa-bahasa, atau perangkat simbol dan tanda-tanda yang menyampaikan pesan tertentu. Oleh karena itu, terdapat ketertataan (order) dan keterulangan (regularitas). Kedua, penganut strukturalisme beranggapan bahwa dalam diri manusia terdapat kemampuan dasar yang diwariskan secara genetis, yang srukturing atau kemampuan menstruktur, menyusun suatu struktur pada gejala-gejala yang dihadapi. Kemampuan ini membuat manusia seolah-olah melihat struktur di balik gejala. Seseorang ahli bahasa dapat menganalisis struktur suatu bahasa dengan baik, namun, ketika ia berbicara ia secara tidak langsung membuat struktur bahasa yang tidak disadari bagaimana susunannya. Ketiga, dalam memahami suatu gejala, aspek sinkronis ditempatkan mendahului aspek diakronis. Keempat, relasi-relasi yang berada dalam struktur dapat disederhanakan lagi menjadi oposisi berpasangan (oposisi biner). Oosisi ini dapat dikelompokkan menjadi oposisi biner yang tidak inklusif misalnya menikah dan tidak menikah, dan oposisi yang eksklusif misalnya siang dan malam (Ahimsa-Putra, 2001 65-70).
Levi Strauss (dalam Ahimsa-Putra, 2001: 94) menetapkan landasan analisis struktural terhadap mitos. Pertama, bahwa jika memang mitos dipandang sebagai sesuatu yang bermakna, maka itu tidaklah terdapat pada unsur-unsurnya yang berdiri sendiri, yang terpisah satu dengan yang lain. Cara mengkombinasikan unsur-unsur mitos inilah yang menjadi tempa keberadaan makna. Kedua, walaupun mitos termasuk dalam kategori bahasa, namun mitos bukanlah sekedar bahasa. Artinya, hanya ciri-ciri tertentu saja dari mitos yang bertemu dengan ciri-ciri bahasa. Oleh karena itu, bahasa, mitos memperlihatkan ciri-ciri tertentu. Ketiga, ciri-ciri ini dapat kita temukan bukan pada tingkat bahasa itu sendiri tetapi di atasnya. Ciri-ciri tersebut lebih rumit dan lebih kompleks, daripada ciri-ciri bahasa.
Legenda Raja Malwopati
Kisah Kerajaan Malawapati yang dipimpin seorang raja bernama Prabu Angling Dharma, Selain itu beliau  juga dikenal sebagai seorang raja yang arif dan bijaksana juga tersohor bisa menundukan bangsa jin. Tersohor juga dengan berbagai macam benda pusaka peninggalanya seperti : Keris Polang Geni, Panah Pasopati, dan lain sebagainya.
Pusat pemerintahan Malawapati sendiri konon berada di daerah bernama Bojanegara (sekarang Kabupaten Bojonegoro). kisah Angling Dharma sudah menjadi hal yang sangat dekat dengan warga Bojonegoro. Entah sejak kapan, yang jelas pendapa Kabupaten Bojonegoro sendiri dinamai sesuai nama kerajaan yang dipimpin oleh Prabu Angling Dharma, Pendapa Malawapati, ruang batik madrim, Persibo, klub sepakbola Kabupaten Bojonegoro, juga mendapat julukan Laskar Angling Dharma, sampai tempat wisata/ tempat berlibur untuk keluarga juga di beri nama meliwis pitih yang semuanya ada hubungannya dengan cerita angling dharma. Terakhir dan paling hangat, pemerintah daerah setempat berencana membangun sebuah museum sekaligus monumen di Desa Wotangare, Kecamatan Kalitidu, Kabupaten Bojonegoro, yang dipercaya dahulu menjadi daerah pusat pemerintahan Kerajaan Malowopati, yang sekarang ada bekas bagunan kuno yang di yakini sebagai bagunan pada masa itu.
Bojonegoro sendiri bukan tanpa alasan menyebut Malawapati berada di wilayah administratifnya. Dua situs utama diyakini ada hubungannya dengan mitos Angling Dharma yakni Petilasan Angling Dharma di Wotangare yang akan dibangun museum. Di situs tersebut ditemukan banyak benda purbakala yang menurut balai sejarah merupakan sisa benda zamansebelum majapahit. Pelacakan kebenaran peristiwa (atau mitos) Angling Dharma sendiri sebenarnya layak untuk didiskusikan. Orang-orang Bojonegoro memiliki keyakinan bahwa Angling Dharma ada disana. Orang Bojonegoro menyakini bahwa mereka adalah keturunan malwopati.
Sebagian masyarakat meyakini bahwa kisah Mahabarata benar-benar terjadi di tanah Jawa. Prabu Angling Dharma juga dikisahkan merupakan keturunan ke tujuh dari si tampan Arjuna. Juga merupakan cucu dari Jayabaya. Kalau naskah sejarah paling dipercaya tentang Jawa masa lampau (Babad Tanah Jawi), nama Jayabaya dapat ditemukan dan “ada”, maka yang agak aneh adalah kepercayaan bahwa Angling Dharma juga merupakan keturunan Arjuna yang hanya ada di dunia pewayangan dapat “lahir” ke dunia nyata.
Kepercayaan mendalam sekumpulan masyarakat dapat disebut sebagai ekspresi identitas yang melekat dalam masyarakat tersebut. Kepercayaan masyarakat Bojonegoro yang lekat dengan Bojanegara inilah yang menjadi pijakan untuk mengkaji mitos Angling Dharma di Bojonegoro. Pada tahap inilah mungkin dilakukan usaha demotologisasi. Demitologisasi di sini penulis artikan sebagai sebuah upaya untuk melakukan pengejaan kembali sebuah mitos dan menemukan nilai-nilai historis.
Identitas Angling Dharma dan Malowopati sendiri kini terlanjur menempel erat dengan sejarah Bojonegoro sendiri. Namun, sekali lagi, perdebatan sejarah hanya akan membuat diskursus ini tumpul saat teks baik berupa prasasti ataupun perkamen sejarah lain terkait Angling Dharma dapat ditemukan. Kesepakatan kolektif masyarakat sendiri sampai mengkultuskan Angling Dharma sebagai sosok idaman orang tua saat “menetek” anak-cucunya. Selain tampan, beliau juga bijak dalam mengambil segala keputusan. Hal tersebut tergambar jelas di kisah dalam serial televisi Angling Dharma. Dikisahkan juga bahwa Raja pertama Malowopati tersebut juga dapat mengenal dan menguasai bahasa hewan layaknya Nabi Sulaiman AS.
Dari beberapa literature yang ada, memang Prabu Angling Dharma pernah bersinggah di Bojonegoro saat mengalami masa hukuman dan kutukan menjadi burung Belibis. Beliau dihukum oleh Dewi Uma dan Dewi Ratih karena melanggar janji sendiri untuk tidak menikah lagi sebagai wujud cintanya kepada Dewi Setyowati yang mati bunuh diri. Dianggap melanggar janji saat Dewi Uma dan Dewi Ratih menguji keteguhan janji itu dengan cara menyamar menjadi nenek-nenek dan gadis cantik menyerupai Dewi Setyowati. Dan runtuhlahlah iman sang Prabu. Kemudian beliau dikutuk kedua kalinya oleh putri cantik dan pemakan manusia sebagai burung Belibis. Dan pada perjalanan selanjutnya sampailah beliau di Wonosari, Bojonegoro dan kisah selanjutnya beliau memperistri Dewi Srenggono, Trusilo, dan Mayangkusuno dan kemudian mempunyai beberapa putra. Akan tetapi belum diketahui secara pasti apakah sang Prabu menetap di Malowopati sampai akhir hayat atau tidak. Sehingga sampai saat ini masih menjadi perdebatan yang panjang perihal letak makam Prabu Angling Dharma.
Synopsis cerita angling darma
Angling darma adalah seorang raja muda yang tampan serta gagah perkasa serta arif dan bijaksana, karena kearifannya ini beliau dihormati dan dijunjung oleh masyarakatnya. Pada suatu hari raja angligdarma berburu dihutan dan ketika berburu angling darma memanah seekor kijang dan kijang itu berlari sampai sendang, ketika sang prabu anglingdarma melihat seorang gadis yang lagi mandi disendang, gadis tersebut adalah dewi setyowati yang merupakan anak dari bengawan manik sutra yang disegani di daerah itu.
Ketika melihat dewi setyowati yang cantik sang perabu merasa tertarik dan jatuh cinta kepada dewi setyowati. Ketika dewisetyowati didekati oleh sang prabu dewi setyowati merasa takut karena melihat sang perabu dengan bala tentaranya, dewi setyowati takut kalau mereka menyakitinya. Ketika dewi setyowati melihat sang prabu dan pelajuritnya mendekat dewi setyowati berlari pulang. Sag prabu yang tertarik oleh kecantikan dewi setyowati sang prabu berusaha mengejarnya, ketika sampai dirumah sang perabu berusaha memperkenalkan diri di depan bengawan manik sutra, mengetahui hal itu batik madrim yang merupakan anak angkat bengawan manik sutra berusaha menantang sang prabu angling darma dan jika sang prabu menang dia diizinkan mempersunting dewi setyowati.
Setelah terjadi pertempuran sang prabu angling darma memenangkan pertempuran itu tetapi dewi setyawati belum mau menerima sang prabu, dengan berbagai cara sang prabu berusaha mendekati dewi setyawati ahirnya dewi setyowati menerima pinangan sang prabu dengan sarat sang prabu harus setia dengan dewi setyawati dan tidak boleh memperistri wanita lain.
Sudah satu tahun sang prabu meperistri dewi setyawati namun dewi setyawati belum mau melayani sang prabu sebagai istri, namun sang prabu masih tetap sabar, sutu hari dewi setyowati melihat kemampuan prabu anglingdarma yang memiliki ajian “aji ginem” ilmu yang dapat berbicara dengan hewan dewi setyowati ingin menguasai dan memilikinya tetapi prabu angling darma sudah dipesan oleh gurunya untuk tidak boleh menurunkan ilmu itu pada orang lain. Tetapi dewi setyowati tidak dapat menerima alasan itu dan dewi setyowati mengancam akan bunuh diri. Tetapi sang prabu tetap tidak bisa memenuhi permintaan istrinya dan sebagai bukti cintanya sang prabu rela mati membakar diri bersama istrinya. Ahirnya sang prabu meminta para pengawalnya menyiapkan api besar dan ketika sang prabu dan dewi setyawati igin melompat kedalam api sang prabu mendengarkan percakapan dua pasang kambing kalu kambing betina ingin agar kambing jantan mengambilkan janur yang terpasang di pangung untuk melompat keapi tetapi kambing jantan tidakmau, dan kambing betina mengancam akan ikut bunuhdiri membakar diri bersama dewi setyowati tetapi kambing hitam menjawab “kalau kamu ingin mati menerjunkan diri keapi, terjunlah. Aku tidak ingin menuruti permintaan istri yang sesat seperti praabu angling darma” karena mendengar percakapan kedua kambing itu sang prabu sadar dan tidak mau melompat di kobaran api.
Setelah beberapa tahun sang prabu hidup sendiri karena dia sudah berjanji setia pada istrinya tetapi ketika ia melakukan pengembaraan beliau di goda oleh nenek dan cucunya yang cantik mirip dewi setyowati, setelah sang nenek dan cucunya mencoba mengoyahkan iman sang prabu ahirnya hati sang prabu luluh, karena itu sang prabu dikutuk.
Analisis structural:
Episode satu (paragraph 1-3)
Dari episode pertama ini mengisahkan tentang pertemuan awal antara prabu anglingdarma dengan dewi setyowati, dalam episode ini juga menceritakan tentang perjuangannya prabu angling darama untuk mempersunting dewi setyawati. Dalam perkenalan awalnya dewi setyawati tidak begitu tertarik dengan sang prabu angling darama, dan ditambah lagi persaratan untuk menyunting dewi setyowati yang harus bisa mengalahkan batik madrim dan ditambah syarat-syarat dari dewi setyowati.
PA = prabu ngling darma adalah seorang raja yang baik dan sakti
DS = dewi setyowati adalah seorang gadis yang dipersunting oleh sang raja
Episode dua (paragraph ke 4-5)
Episode ke dua ini menceritakan tentang kisah kehidupan sang prabu angling darma setelah menikai dewi setyowati sampai dewi setyowati meningeal membakar diri. Dalam pernikahannya prabu angling darma dengan dewi setyowati selama beberapa tahun dewi setyowati tidak melaksanakan tugasnya sebagai seorang istri. Dari kisah ini kita bisa menilai klo prabu angling darma adalah seorang raja yang baik dan tidak mau memaksa kehendaknya sendiri. Sebagai seorang raja jika ia bisa melakukan apapun tetapi sang prabu pemiliki prinsip hubungan suami istri itu harus lah dilandasi dari prinsip kerelaan.
Episode ketiga (paragraph ke 5- selesai)
            Episode ketiga ini menceritakan tentang perjalanan dan kejadian-kejadian yang dialami prabu angling daarma setelah kematian dewi setyawati, dalam perjalanan hidupnya angling darma sering mendapatkan cobaan, suatu hari ia mendapatkan cobaan kesetiaan/ janji nya terhadap dewi setyowati yang ternyata sang prabu tergoda dan dinilai telah melanggar janjinya yang pada ahirnya dia dikutuk oleh seorang nenek-nenek…!!!
Penerapan teori levi strauss secara umum
Jika kita melihat cerita rakyat yang ada tentang kisah prabu angling dharma dengan kerajaan malwopatinya di lihat dari segi geografisnya, sosiologisnya dan kosmologisnya ada kemungkinan tokoh angling darma adalah tokoh nyata karena di setiap caritanya ada situs, rangkaian carita besar yang saling berkaitan serta memiliki pelajaran sosiologis yang sangat besar dan bardampak secara ekonomi. Secara geografis cerita angling darma yang dapat menaklukkan dan merebut benda pusaka panah pasopati memiliki kedekatan geografis degan asalmula cerita panah pasopati yang barada di solo serta ditemukannya catatan-catatan surat yang menyebutkan nama angling dharma dari peninggalan-peninggalan raja-raja terdahulu maka besarkemungkinan raja angling darma itu benar-benar ada, jika dilihat dari cerita angling dharma yang berada di bojonegoro degan keyakinannya.
Tataran tekno ekonomi
cerita angling darma jika dilihat dari tataran ekonomi maka bisa dilihat kalau kerajaan malwopati itu barada di daerah penuh dengan hutan dan pertanian karena seluruh ceritanya ada di hutan dan kondisi masyarakatnya adalah hutan dan pinggiran hutan yang sekarang menjadi pertani dan itu semua cocok dengan kondisi geografis di bojonegoro. Angling darma sebagai seorang raja ia mendapatkan upeti dari rakyatnya, bahkan dalam cerita ketika rakyatnya dalam kondisi kesusahan/ hasil panennya menrun beliau juga bersikap bijak dengan tidak mengambil upeti dari rakyatnya. Karena sikapnya yang bijak dan pengertian terhadap kondisi rakyatnya angling darma dikenal sebagai sosok raja yang bijaksana.
Mitos dan Kosmologis
Cerita angling darma memiliki nilai-nilai mitos yang agung, agung karena nilai yang terkandung dalam cerita angling darma adalah nilai terhadap sumpah dan janji. Sang prabu berjanji untuk setia kepada dewi setyowati yang merupakan putri orang suci ”resik” namun seiring berjalannya waktu sang prabu angling darma masih tetap setia dengan dewi setyowati  yang telah mati membakar diri tetapi ketika beliau di coba/diuji oleh dewi umam dan dewi ratih yang menyamar sebagai seorang nenek-nenek dan cucunya yang mirip dengan dewi setyowati.
Ketika sang  prabu melihat kecantikan gadis yang mirip dengan dewi setyowati tersebut didalam hati sang prabu timbul rasa cinta terhadap gadis itu teapi sang prabu masih tetap berusaha untuk setia pada dewi ratih, sang prabu masih berusaha untuk menepati janjinya untuk tidak menikah lagi, selama bertahun-tahun sang prabu masih tetap menjaga komitmennya. Tetapi ketika sang nenek mengetahui jika didalam hati sang prabu timbul rasa cinta terhadap gadis yang mirip dwi setyowati tersebut sang nenek mengunakan segala tipu muslihatnya yang pada ahirnya runtuhlah iman sang prabu angling darma dan sang prabu menerima pinangan sang nenek ketika sang prabu menerima pinangannya nenek dan gadis yang mirip dengan dwi setyowati tersebut berubah ke wujud aslinya sebagai dewi umam dan dewi ratih.
Prabu angling darma di kecam sebagai raja yang tidak menepati janjinya dan kemudian Beliau dihukum oleh Dewi Uma dan Dewi Ratih karena melanggar janji sendiri untuk tidak menikah lagi sebagai wujud cintanya kepada Dewi Setyowati yang mati bunuh diri. Dianggap melanggar janji saat Dewi Uma dan Dewi Ratih menguji keteguhan janji itu dengan cara menyamar menjadi nenek-nenek dan gadis cantik menyerupai Dewi Setyowati. Kemudian beliau dikutuk kedua kalinya oleh seorang putri raksasa yang cantik dan pemakan manusia sebagai burung Belibis.
Tataran sosiologis
Dari cerita raja angling darma tersebut kita bisa menilai gambaran kehidupan masyarakatnya adalah masyarakat yang patuh terhadap kerajan itu bisa dilihat dari wibawa sang prabu angling darma sebagai sosok raja yang bijaksana dan dermawan sehingga rakyatnya pun mengagumi dan mengidolakan sang raja. Selain itu kita juga bisa menilai kalau pada zaman itu adalah zaman yang masih memegang teguh adat yang berlaku dan itu bisa dilihat dari peristiwa membakar diri dewi setyowati, walaupun ada beberapa versi atas alasan dewi setyawati membakar diri.
Kesimpulan
Dari penerapan teori levi strauss terhadap mitos raja angling darma ini kita mendapatkan beberapa pesan yang ingin disampaikan dari cerita atau kisah angling darma ini yang pertama adalah untuk menjaga komitmen, janji yang telah di buat agar tidak terkena adzab atau kutukan. Yang kedua adalah jika menjadi pejabat atau raja hendaknya berlaku adil dan bijaksana terhadap rakyatnya.
Daftar pustaka
Ahimsa-Putra, Heddy Shri. 2001. Strukturalisme Levi Strauss: Mitos dan Karya Sastra. Yogyakarta: Galang Press.
Fokkema, D.W., 1998, Teori Sastra Abad Kedua Puluh (Theories of Literature in the Twentieth Century). Jakarta : Gramedia,
Koentjaraningrat, 1987. Sejarah Teori Antropologi I. Jakarta: Universitas Indonesia Press.
Suwondo, Tirto. 2003. Studi Sastra: Beberapa Alternatif. Yogyakarta: Hanindi.
Levi-Strauss, Claude. 2005. Antropologi Struktural. Yogyakarta: Kreasi Wacana.

0 komentar:

Poskan Komentar