hukum epik oleh Axel Olrix dalam cerita raja negeri raksasa pringgadani

Posted by joko yulianto Selasa, 19 Juni 2012 0 komentar

Raja Negeri Raksasa Pringgadani
Oleh: joko yulianto
Sinopsis Cerita
Gatutkaca adalah putra dari salah satu tokoh Pandawa yang mempunyai kuku pancanaka yaitu Bima alias werkudara dengan seorang putri dari Negeri raksasa Kerajaan Pringgadani sekaligus penguasa hutan yaitu Dewi Arimbi. Gat yang berarti bulat, dan Utkaca yang berarti kepala, nama Gatutkaca diberikan karena kepalanya saat baru dilahirkan bulat seperti kendi (tempat air minum dari tanah liat), kelahiran Gatutkaca diiringi Kejadian-kejadian aneh yang selalu mengiringi kelahiran Si calon manusia setengah raksasa yang bisa terbang tanpa sayap, dan nantinya mendapat julukan “otot kawat tulang besi”.(1)
Setelah gatotkaca Antaranya, sudah setahun dari masa kelahiran bayi Gatotkaca yang kala itu bernama Jabang Tutuka, tali pusarnya tak bisa dipotong, sudah berbagai macam alat pemotong digunakan namun tak ada satupun yang berhasil. Raden Arjuna sebagai paman ikut prihatin dengan keadaan keponakanya memutuskan untuk bersemedi mencari petunjuk Sang Dewata: Arjuna: “Kakang Bima… aku mohon izin untuk pergi bersemedi memohon petunjuk Sang Batara, agar tali pusat Jabang Tutuka bisa dipotong” arjuna memohon izin ke Bima.(2)
Arjuna pun berangkat bersemedi, Batara Guru yang mengetahui kejadian itu mengutus Batara Narada untuk turun ke bumi menemui Arjuna dan memberikan Pusaka Kontawijaya untuk memotong tali pusar si jabang tutuka. Malang, pada saat yang sama Adipatih karna pada saat yang sama juga sedang bertapa mencari pusaka, dengan bantuan ayahnya Batara Surya mendadak langit menjadi gulita, karena sosoknya yang mirip dengan Arjuna Batara Narada pun memberikan Pusaka Kontawijaya pada Karna.
Setelah beberapa waktu batara narada merasa gelisah seakan aka ada sesuatu yang salah pada dirinya, dan ternyata setelah diusut dan direnungkan Batara Narada segera menyadari kesalahanya dan setelah bertemu Arjuna dia mengatakan kalau ia salah memberikan pusakanya pada Adipati Karna.
Arjuna kemudian mencegat Adipati Karna terjadilah duel sengit dua kesatria memperebutkan pusaka. Nasib mujur, Karna berhasil meloloskan diri membawa Pusaka yang nantinya akan menjadi senjata pembunuh bagi Gatotkaca, sedangkan Arjuna hanya berhasil membawa warangka-nya (Sarung-nya). Namun sarung pusaka kontawijaya yang terbuat dari kayu mastaba pun bisa dipergunakan untuk memotong tali pusar Gatotkaca, hanya saja keajaiban terjadi wadah pusaka itu masuk kedalam perut Si Jabang Gatotkaca, menurut Kresna itu akan menambah kekuatanya. (pertempuran pertama)
Kocap kacarita Si Jabang Putut Tetuka (Gatotkaca Bayi) dipinjam Batara Narada, untuk menghadapi Patih Sekipu dari Kerajaan Trabelasuket yang kala itu sedang mengobrak-abrik kayangan, karena Niatnya untuk melamar Bidadari Dewi Supraba ditolak oleh Hyang Pramesti Batara Guru, atas perintah rajanya Prabu kalapracona.
Aneh. Semakin patih sekipu menghajarnya bayi Arimbiyatmaja (Nama lain Gatokaca) malah semakin kuat, dengan alasan tidak tega patih sekipu menyerahkan kembali Gatotokaca bayi pada Batara Narada dengan alasan akan kembali melawan Gatotkaca setelah ia dewasa, alas an untuk menutupi rasa malunya karena tidak dapat mengalahkan anak bayi.
Gatotkaca kemudian dijeburkan ke kawah Candradimuka di Gunung Jamurdipa, Para Dewa menaburi Jabang Tetuka dengan berbagai senjata pusaka, alih-alih mati dalam panasnya kawah candradimuka, Jabang tetuka keluar menjadi kesatria dewasa dan semua pusaka yang dilemparkan para dewa sudah melebur dan bersatu dalam raganya, itulah kenapa Gatotkaca dijuluki “otot kawat tulang besi” karena tubuhnya tak bisa terlukai oleh senjata apapun.
Lalu sesuai janjinya “janji akan bertarung dengan gatotkaca setelah gatotkaca dewasa” berlangsunglah lagi perang tanding dengan sekipu, tidakberlangsung lama dengan sekali gigit patih sekipu tewas. Para pandawa dan sri kresna yang juga datang ke kahyangan memberi nasihat kepada gatotkaca untuk tidak meneruskan perangai raksasanya, bertarunglah secara kesatria, dalam upacara tolak bala singkat gigi taring gatotkaca dipotong. (pertarungan ke3)
Kahyangan bersuka cita, semua Dewa dan Dewi bergembira, Batara narada kemudian meruwat jabang tetuka dan mengganti namanya menjadi Gatotkaca, dan sebagai cinderamata rasa terima kasih Batara Guru atau Sang hyang giri natha, memberikan tiga pusaka :
Pertama Caping Basunanda, yang membuat pemakainya tak bisa kena hujan dan terkena panas, kalau jaman sekarang seperti payung yang multifungsi.
Kedua, Kotang Antrakusuma, bentuknya seperti rompi yang membuat pemiliknya bisa terbang tanpa sayap dan kala malam berkobar-kobar sinarnya saat terbang.
Ketiga, Terompah Padakacarma, ini adalah sepatu yang bisa menetralisir energi negtif, jadi tempat yang angker akan terasa biasa-biasa saja, karena jin dan setan akan lari terbirit-birit melihat sepatu Padakacarma
Setelah semuanya selesai gatotkaca bersama ayahnya aden Werkudara alias bima dan keempat pamanya serta Sri Kresna turun ke Bumi. Di bumi gatotkaca menjalani hidup sebagai kesatria, dia sangat mencintai saudara sepupunya Abimanyu anak dari Prabu Arjuna, kemana abimanyu pergi Gatotkaca selalu mengikuti, pengintai terbang diatasnya.
Pada saat pamanya Prabu arjuna mengadakan sayembara yang memperebutkan anaknya Dewi Pregiwa, gatotkaca mengikuti dan berhasil mengalahkan berpuluh kesatria pilih tanding, setelah berhasil mengalahkan Laksmana Mandrakumara yang terhitung masih saudaranya sendiri karena ia anak dari Prabu Duryudana saudara dari pihak kurawa. Setelah memenagkan sayembara itu ahirnya gatot kaca menikah dengan saudara sepupunya sendiri dewi pregiwa, gatotkaca mempunyai anak Sasikirana. Gatotkaca benar-benar menjadi kesatria pilih tanding, dikatakan kekuatanya akan meningkat berlipat-lipat kala malam menjelang karena ajian gelap sakyuto yang dimilikinya.
Setelah ibudanya Arimbi merasa anaknya sudah cukup dewasa akhirnya gatutkaca diangkat sebagai Raja di Negeri Raksasa Pringgadani, Terkecuali Brajadenta, kesemua pamanya Brajamusti, Brajalamadan, Brajawikalpa, dan Kalabendana semua sangat menyayangi Gatotkaca, dan Kalabendanalah yang paling Gatutkaca sayangi, meskipun Paklik Raksasanya ini berbentuk bulet , kerdil, tapi hatinya mulia, dan polos.
Brajadenta yang sudah terkena hasutan patih sengkuni bahwa seharusnya tahta Pringgadani jatuh ke dirinya bukan ke tangan keponakanya yang masih seumur jagung dalam ilmu pemerintahan. Akhirnya memberontak Brajamusti diperintahkan untuk mencegah dan menyadarkan saudaranya, terjadilahperang tanding dimana keduanya sama-sama meninggal, arwah brajadenta merasuk ke tangan kiri, dan arwah brajamusti masuk ke tangan kanan, maka makin bertambah pula kekuatan Gatotkaca.
Prabu Gatotkaca memerintah Negeri Raksasa Pringgadani dengan arif dan bijaksana, sampai tercapailah kemakmuran di Negerinya. Negeri yang letaknya berada ditengah-tengah hutan itu menjadi Negeri yang makmur dan mahsyur, disegani oleh Negeri lainya karena mempunyai pemimpin yang berwibawa dan sakti mandraguna.
Alur Cerita
  1. Misteri kelahiran gatotkaca
  2. Perjuangan memotong tali pusar gatotkaca
  3. Pertarungan arjuna merebutkan Pusaka Kontawijaya
  4. Pertarungan pertama gatotkaca dengan patih skipu
  5. Pertarungan kedua gatotkaca melawan patih skipu
  6. Pertarungan gatotkaca melawan para kesatria dalam sayembara
  7. Pengangkatan gatotkaca menjadi raja peringgadani
Dari alur cerita diatas  maka dapat digambarkan menjadi gambar berikut ini.
 




Awal                                     tengah                                         akhir
Gambar pola alur gatotkaca sampai menjadi raja pringgadani.
Berdasarkan gambar di atas alur cerita gatotkaca raja pringgodani ini merupakan alur maju. Pentahapan kejadian yang dimulai dari peristiwa awal (menceritakan proses kelahiran gatotkaca), tengah (pertarungan-pertarungan gatotkaca) dan akhir (menjadi orang yang disukai dan diangkat menjadi raja). Karena alur cerita diatas berurutan mulai dari proses kelahiran gatotkaca dan sampai gatotkaca diangkat menjadi raja pringgadani diceritakan secara berurutan oleh Nurgiantoro (2010: 151) disebut sebagai plot kronologis.
Dalam cerita di atas yang merupakan peristiwa-peristiwa awal adalah peristiwa-peristiwa yang dibritanda pada alur nomor 1 sampai dengan 2, peristiwa tengah ditandai pada alur nomor 3 sampai dengan alur nomor 6 , sedangkan peristiwa akhir ditandai dengan alur nomor 7, demikianlah gambaran alur cerita raja peringgadani.
Hukum Epik
Axel Olrix dalam Danandjaja ( 1984) sebagaimana dikutip Sudikan (2001:72-73) menyatakan bahwa struktur atau susunan cerita prosa rakyat terikat oleh hukum-hukum yang sama yang olehnya disebut sebagai hukum epos ( epic laws). Telah dijelaskan di bagian atas bahwa terdapat 13 hukum epik yang dikemukakan oleh Axel Olrix.
Dalam mkalah ini akan dikemukakan beberapa data yang menunjukkan hukum-hukum epik ala Axel Olrix tersebut.
  1. Hukum Pembuka Penutup
Sudikan (2001:72) menjelaskan hukum pembuka penutup sebagai suatu cerita rakyat  tidak akan dimulai dengan suatu yang tiba-tiba, tidak juga berakhir dengan mendadak. Artinya cerita berlasung melalui tahapan-tahapan tertentu.  Tahap tersebut merupakan rangkain kejadian yang saling berhubungan satu sama yang lain. Tahap cerita bisa saja terdiri atas tahap awal, tahap tengah, dan tahap akhir. Tahap awal merupakan pendahuluan cerita. Dalam tahap ini pencerita memperkenalkan tokoh cerita. Tahap tengah merupakan kejian yang sering disebut sebagai puncak cerita. Di dalam tahap inilah terjadi peristiwa yang disebut sebagai konflik. Dan tahap akhir merupakan penyelesaian cerita.
Dalam cerita gatotkaca raja pringgadani ini hukum pembuka dapat dilihat dari cerita proses kelahiran gatotkaca, hokum pembuka terdapat pada data sebagai berikut:
“Gatutkaca adalah putra dari salah satu tokoh Pandawa yang mempunyai kuku pancanaka yaitu Bima alias werkudara dengan seorang putri dari Negeri raksasa Kerajaan Pringgadani sekaligus penguasa hutan yaitu Dewi Arimbi. Gat yang berarti bulat, dan Utkaca yang berarti kepala, nama Gatutkaca diberikan karena kepalanya saat baru dilahirkan bulat seperti kendi (tempat air minum dari tanah liat), kelahiran Gatutkaca diiringi Kejadian-kejadian aneh yang selalu mengiringi kelahiran Si calon manusia setengah raksasa yang bisa terbang tanpa sayap, dan nantinya mendapat julukan (otot kawat tulang besi)”
Petikan di atas merupakan paragraf pembuka gatotkaca raja pringgadani. Paragraf ini berisi perkenalan. Pencerita menjelaskan siapa tokoh-tokoh yang akan menjalankan cerita. Di mana tokoh itu berada dan apa yang dilakukannya. Dalam penggalan tersebut terlihat adanya tokoh gatotkaca, ayah gatotkaca dan keluarga gatotkaca Dalam penggalan ini  juga ditemukan kedudukan cerita atau sering disebut sebagai setting. Penggalan di atas dilanjutkan dengan memperkenalkan  bagaimana tokoh-tokoh itu bertindak dalam sebuah cerita.
Sedangkan hukum penutup dapat dicermati penggalan berikut ini.
“Prabu Gatotkaca memerintah Negeri Raksasa Pringgadani dengan arif dan bijaksana, sampai tercapailah kemakmuran di Negerinya. Negeri yang letaknya berada ditengah-tengah hutan itu menjadi Negeri yang makmur dan mahsyur, disegani oleh Negeri lainya karena mempunyai pemimpin yang berwibawa dan sakti mandraguna.”
                             Berdasarkan informasi diatas kita bisa melihat penutupan cerita gatotkaca raja pringgadani ini diahiri dengan kebahagiaan.
  1. Hukum Pentingnya Tokoh yang Keluar Pertama dan yang Keluar Terakhir.
Menurut Sudikan (2001:73) yang dimaksud hukum pentingnya tokoh yang keluar pertama dan yang keluar terakhir adalah jika ada sederet orang atau kejadian yang muncul atau terjadi, maka yang terpenting akan ditampilkan terdahulu, walaupun yang ditampilkan terakhir atau kejadian yang terjadi kemudian adalah yang akan mendapat simpati atau perhatian cerita itu. Maknanya adalah tokoh yang muncul pertama adalah tokoh yang lebih penting dalam cerita. Tokoh dalam hal ini dapat berupa orang atau bentuk lain yang dapat memainkan  cerita. Indikator penting dalam hal ini adalah tokoh tersebut yang akan ditonjolkan oleh cerita. Penonjolan dapat berupa sering dibahas, menjadi perhatian tokoh lain atau yang menjadi pusat masalah dalam seluruh cerita.
Dalam cerita gatotkaca raja pringgadani ini hukum tokoh yang keluar pertama dapat dilihat dari cerita gatotkaca yang masih kecil dihadapkan dengan, hokum tokoh yang keluar pertama terdapat pada data sebagai berikut:
“Kocap kacarita Si Jabang Putut Tetuka (Gatotkaca Bayi) dipinjam Batara Narada, untuk menghadapi Patih Sekipu dari Kerajaan Trabelasuket yang kala itu sedang mengobrak-abrik kayangan, karena Niatnya untuk melamar Bidadari Dewi Supraba ditolak oleh Hyang Pramesti Batara Guru, atas perintah rajanya Prabu kalapracona.”
                   Hokum tokoh utama yang keluar terahir dapat diperoleh dari data sebagai berikut:
“Pada saat pamanya Prabu arjuna mengadakan sayembara yang memperebutkan anaknya Dewi Pregiwa, gatotkaca mengikuti dan berhasil mengalahkan berpuluh kesatria pilih tanding, setelah berhasil mengalahkan Laksmana Mandrakumara yang terhitung masih saudaranya sendiri karena ia anak dari Prabu Duryudana saudara dari pihak kurawa. Setelah memenagkan sayembara itu ahirnya gatot kaca menikah dengan saudara sepupunya sendiri dewi pregiwa, gatotkaca mempunyai anak Sasikirana. Gatotkaca benar-benar menjadi kesatria pilih tanding, dikatakan kekuatanya akan meningkat berlipat-lipat kala malam menjelang karena ajian gelap sakyuto yang dimilikinya.”
  1. Hukum Anak Kembar
Sudikan (2001:73) memberi penjelasan tentang hukum anak kembar dalam arti yang luas. Anak kembar dapat diartikan sebagai anak kembar yang sesungguhnya, yaitu dua orang yang seayah seibu yang dilahirkan pada hari, tanggal yang sama dan biasanya memiliki wajah yang sama. Anak kembar juga dapat diartikan  saudara kandung, yaitu dua orang yang dilahirkan dari ibu dan ayah yang sama tetapi dilahirkan pada hari, tanggal, bulan, dan tahun yang berbeda. Dalam hal ini anak kembar juga dapat berupa dua tokoh yang menampilkan diri dalam peran yang sama,misalnya saja sepasang penjahat, sepasang petugas keamanan dan lain sebagainya.
Jika kita merujuk dari pendapat sudikan ini cerita gatotkaca raja pringgadani tidak memiliki hukum anak kembar, dalam cerita raja pringgadani ini hanya menjelaskan patner gatotkaca tetapi tokoh yang bersama gatotkaca tersebut tidak memiliki peran yang sejajar.
  1. Hukum Dua Tokoh Dalam satu Adegan
Sudikan (2001:72) yakni didalam suatu adegan cerita rakyat, tokoh yang diperkenankan untuk menampilkan diri dalam waktu yang bersamaan, paling banyak hanya boleh menceritakan dua orang saja. Berdasarkan pendapat sudikan didalam cerita raja pringgodani ini tidak terdapat hokum dua tokoh dalam satu adegan, karena setiap adegan yang terjadi tokoh-tokohnya datang dan silih berganti dan tidak ada penumpukan tokohnya.
  1. Hukum Pengulangan
Sudikan (2001:72) menjelaskan bahwa demi memberi tekanan kepada cerita rakyat, suatu adegan diulang beberapa kali. Pengulangan adegan itu dilakukan dalam berbagai berbagai bentuk, misalnya saja pengulangan tindakan tokoh, pengulangan bentuk-bentuk ucapan tokoh atau pengulangan setting-setting tokoh.
  1. Hukum Tiga Kali
Sudikan (2001:72)  menjelaskan hukum tiga kali bahwa tokoh cerita rakyat baru akan berhasil  dalam menunaikan tugasnya setelah mencobanya tiga kali. Menunaikan tugas dapat diartikan sebagai melakukan aktivitas yang diperintahkan raja atau keluarga kerajaan. Sedangkan keberhasilan menunaikan tugas dapat diukur dari seberapa jauh tugas tersebut tercapai atau dilaksanakan.
Hokum tiga kali ini dalam cerita raja pringgodani dapat dilihat dari alur nomor 3,4 & 5 dalam alur nomer tiga ini menceritakan arjuna melawan patih skipu yang merebutkan Pusaka Kontawijaya yang akan digunakan untuk memotong tali pusar gatotkaca, dari alur nomor empat pertarungan gatotkaca dengan patih skipu masih seri dan dari pertarungan selanjutnya gatotkaca berhasil mengalahkan patih skipu. Itu tergambar dari teks berikut:
“Lalu sesuai janjinya “janji akan bertarung dengan gatotkaca setelah gatotkaca dewasa” berlangsunglah lagi perang tanding dengan sekipu, tidakberlangsung lama dengan sekali gigit patih sekipu tewas. Para pandawa dan sri kresna yang juga datang ke kahyangan memberi nasihat kepada gatotkaca untuk tidak meneruskan perangai raksasanya, bertarunglah secara kesatria, dalam upacara tolak bala singkat gigi taring gatotkaca dipotong.” (pertarungan ke3)
  1. Hukum Berpola Cerita Rakyat
Sudikan (2001:73) menjelaskan hukum berpola cerita rakyat dengan memberi contoh  sebagai berikit. Misalnya seorang pemuda harus pergi ke suatu tempat tiga hari berturut-turut dan setiap hari ia akan bertemu dengan raksasa dan berhasil membunuhnya dengan cara yang sama.
  1. Hukum Logika Legenda
Sudikan (2001:73) menjelaskan cerita rakyat mempunyai logika sendiri, logika yang tidak sama dengan logika ilmu pengetahuan, dan biasanya lebih bersifat animisme, berlandaskan pada kepercayaan terhadap kemukzizatan dan ilmu gaib.
Hokum logika legenda ini tercermin dalam cerita raja pringgodani, logika legenda yang tampak adalah jika seseorang bersemedi untuk mendapatkan petunjuk pasti akan mendapatkan petunjuk. Hal itu dapat digambarkan melalui teks berikut:
“Raden Arjuna sebagai paman ikut prihatin dengan keadaan keponakanya memutuskan untuk bersemedi mencari petunjuk Sang Dewata: Arjuna: “Kakang Bima… aku mohon izin untuk pergi bersemedi memohon petunjuk Sang Batara, agar tali pusat Jabang Tutuka bisa dipotong” arjuna memohon izin ke Bima.”
  1. Hukum keadaan berlawanan
Sudikan (2001: 73) menjelaskan hokum keadaan berlawanan menceritakan diantara tokoh-tokoh cerita mempunyai sifat yang berlawanan, misalnya thor yang kuat memerlukan odin yang bijaksana atau loki yang licik untuk mendampinginya. Berdasarkan teori sudikan tersebut cerita raja pringgodani ini tidak memiliki hokum berlawanan karena cerita ini tidak menampakkan sifat patner gatotkaca maupun sifat patner musuh-musuhnya.
10.   Hukum Adanya Satu Cerita dalam Suatu Cerita
Sudikan (2001:73) menjelaskan dalam satu cerita, jalan ceritanya tidak akan kembali lagi hanya untuk mengisi kekurangan yang tertinggal dan jika sampai ada kajadian yang tertinggal maka hanya akan diisi dalam rupa dialog saja missal terdapat pada kutipan “(Lalu sesuai janjinya “janji akan bertarung dengan gatotkaca setelah gatotkaca dewasa”)”
11.   Hokum pengunaan adegan tablo
Penerapan hukum pengunaan adegan tablo ini merupakan adegan adegan puncak yang dapat merubah tokoh utama, hal ini sesuai dengan pendapat sudikan (2001:73) yang enjelaskan hokum penggunaan hokum tablo yakni adegan-adegan puncak seperti adegan Samson diikat di tiang pilar setelah matanya di butakan. Hokum tablo ini dapat dilihat dari kutipan teks berikut:
“Gatotkaca kemudian dijeburkan ke kawah Candradimuka di Gunung Jamurdipa, Para Dewa menaburi Jabang Tetuka dengan berbagai senjata pusaka, alih-alih mati dalam panasnya kawah candradimuka, Jabang tetuka keluar menjadi kesatria dewasa dan semua pusaka yang dilemparkan para dewa sudah melebur dan bersatu dalam raganya, itulah kenapa Gatotkaca dijuluki “otot kawat tulang besi” karena tubuhnya tak bisa terlukai oleh senjata apapun.”
                            Dari kutipan tersebut tergambar bahwa puncak tiik balik dan alasan mengapa gatotkaca semakin sakti terungkap. 
12.   Hukum Pemusatan pada Tokoh Utama
Hokum pemusatan pada tokoh utama ini sangat terlihat dari setiap alur cerita, karena setiap alur cerita tersebut selalu berkaitan dengan tokoh utama. Missal cerita pada alur nomor tiga, tentang Pertarungan arjuna merebutkan Pusaka Kontawijaya, walaupun gatotkaca tidak ikut bertarung, tetapi pertarungan tersebut terjadi karena merebutkan pusaka kontawijaya yang akan digunakan untuk memotong tali pusar gatotkaca, secara tidak langsung pertarungan tersebut terjadi karena gatotkaca.
13.  Hokum kesatupaduan rencana cerita
Hokum kesatupaduan rencana cerita pada cerita raja pringgodani ini tergambarkan dalam alur cerita nomer 4 & 5, dari cerita alur nomer empat gatot kaca yang masih kecil bertarung dengan patih skipu, tetapi didalam pertarungannya dengan gatotkaca patih skipu tak bisa menundukkan gatotkaca dan pertarungannya berlangsung seri (tidakada yang menang dan tidakada yang kalah), setelah pertarungan itu patih skipu berjanji untuk bertarung lagi dengan gatotkaca setelah gatotkaca dewasa. Setelah gatotkaca dewasa Pertarungan kedua gatotkaca melawan patih skipu dilanjutkan dan dengan mudah gatotkaca dapat mengalahkan patih skipu. Dari cerita diatas tergambar dengan jelas kesatupaduan antar alur cerita.

0 komentar:

Poskan Komentar