BELAJAR SEBAGAI PROSES MEMANUSIAKAN MANUSIA

Posted by joko yulianto Selasa, 11 Oktober 2011 0 komentar
BELAJAR SEBAGAI PROSES MEMANUSIAKAN MANUSIA
Pandangan awal dari: joko yulianto
Manusia diberi kelebihan oleh Tuhan dibandingkan dengan makhluk lainnya. Dari segi pengajaran, belajar tentang manusia berarti mempelajari biologi, psikologi, sosiologi, antropologi, psikologi, filsafat, teologi, dan berbagai kajian ilmu yang meletakkan manusia sebagai obyek dan teori. Lalu belajar memanusiawikan diri berarti praktik, mencoba menerapkan perilaku dan kebiasaan tertentu yang menurut teori hanya dapat dilakukan oleh manusia. Para penyandang gelar MBA, MM, atau bahkan doktor sekalipun, yang jelas tahu banyak soal ilmu administrasi, ilmu manajemen dan lainnya, tetapi belum tentu bisa melaksanakan atau mempraktikkan ilmunya itu dalam situasi nyata. Begitu juga pakar-pakar ilmu politik dan ilmu ekonomi yang kritis ataupun sok kritis, pandai berteori tentang cara mengatur pembagian kekuasaan dan membangun sistem ekonomi Indonesia, tetapi belum tentu mampu melakukannya bila diberikan kesempatan untuk duduk di pemerintahan.
Diantara teori dan praktik, terdapat semacam “jembatan”  yang justru amat penting untuk dapat memanusiawikan diri seseorang, yakni ia harus belajar menjadi: yakni dengan merenungkan hakikat dirinya terlebih dahulu, mencari jati dirinya, menghayati keberadaannya sebagai “apa” dan “siapa”. Tidak semua teori tentang manusia prlu dipraktikkan, seperti kemampuan manusia berbuat sesuatu yang jahat, immoral dan tidak etis. Akan tetapi, mungkin yang membuatnya unik dan tidak dapat  dibandingkan dengan binatang adalah kemampuan manusia untuk menyadari keberadaannya serta menempatkan dirinya dalam suatu hubungan dengan Sang Penciptanya, memiliki nurani yang selalu membimbingnya dan kemampuannya untuk berfikir.
Kalau kita selalu bercermin model pendidikan ala barat yang selalu dipuja dan di unggul-unggulkan sepertinya sudah saatnya untuk direvisi karena pada kenyataannya di tempat asalnya sudah mulai ditinggalkan. Saat ini wacana home-schooling semakin trendy dan diakui keunggulannya. Home-schooling menjadi paradigma sistem pendidikan yang memanusiakan manusia secara alami sesuai dengan bakat serta potensi yang dimiliki oleh peserta didiknya. Dalam sistem pendidikan seperti ini, peserta didik tidak dipaksa untuk menelan materi-materi yang memang tidak sesuai dengan bakat dan minatnya. Bagaimanapun juga, tujuan pendidikan adalah membentuk manusia paripurna yang memiliki keseimbangan dalam kecerdasan mental, spiritual dan intelijensianya. Selama nilai-nilai dasar yang membentuk kecerdasan integratif tersebut dapat diwujudkan maka pengembangan minat dan bakat setiap manusia diserahkan pada pilihan pribadinya masing-masing. Sehingga jika memang seorang anak memiliki bakat musikalitas yang tinggi dapat menjadi seorang musikus jenius sekelas Ludwig van Bethoven. Sedangkan yang memiliki minat dan bakat sains dapat menjadi orang yang menumbangkan postulat-postulat Albert Einstein dengan karya-karya nyata ilmiahnya. Karena tidak selamanya orang dengan bakat musikalitas tinggi memiliki tingkat kecerdasan lebih rendah daripada seorang doktor yang menemukan theorema matematika baru.
Sudah waktunya pendidikan menempatkan manusia sebagai subyek, bukan obyek yang dipaksa untuk menerima doktrin, dogma dan aksioma. Sudah waktunya kita melakukan kaderisasi dalam membentuk manusia cerdas paripurna yang kelak akan mampu menemukan doktrin, dogma dan aksioma baru.

0 komentar:

Poskan Komentar