REALISME SOSIALIS

Posted by joko yulianto Selasa, 11 Oktober 2011 0 komentar
REALISME SOSIALIS
PENDAHULUAN
Realisme adalah aliran kesastraan yang terpenting dalam sastra naratif abat ke-19, aliran tersebut berusaha melukiskan pengamatan dunia semata. Khususnya dalam kurunwaktu 1830-1880, tetapi penulis jane austin yang meninggal tahun 1817 juga di anggap sebagai penganut realisme, walaupun pada zaman itu istilah realisme belum ada. Jan van luxemburg miekel bal & willem g weststeijn(tentang sastra :173) mengatakan “Bila kita menyebut novel abat ke 20 sebagai realistik karena berbicara secara realistis tentang cinta remaja dan seksualitas, maka sebenarnya istilah tersebut tidak lagi kita gunakan untuk menyebut aliran ke sastraan, melainkan untuk menggambarkan suatu cara penulisan”. Istilah realisme pertama tama di gunakan dalam majalah (mercure francais du XIX siecle) pada tahun 1826. Di situ realisme di gambarkan sebagai “peniruan bukan dari karya seni tradisi melainkan peniruan dari aslinya yang di sajikan oleh alam” seperti kita lihat di atas, peniruan karya seni dengan mengindahkan peraturan keragaman secara ketat merupakan ciri khas aliran klasik. Sebaliknya ciri khas realisme abat ke-19 adalah keinginan untuk mengambarkan secara serius masalah, hubungan,serta kejadiian sehari-hari dan melukiskan manusia dalam semua kedudukan sosial.
            Penulis realistik berusaha memberi informasi objektif tentang kenyataan sezaman dan kadang kadang mengenai masa lampau. Denan sendirinya ini berupa kenyataan yang di konstruksikan yang bergantung pada sudut pandang pengarang tentang kenyataan, pilihan bahannya,pilihan tokohnya dan sebagainya. dunia nyata dalamnovel realistik ingin di sajikan sebagai dunia nyata yang koheren. Disini kita menunjuk kepada ciri khas roman abat ke 19 sebagai roman tentang konflik antara nilai individu dan nilaikolektif. Sering kali individu ahirnya dikalahkan oleh nilai-nilai serta kepentingan kelas menengah kolektif.
            Realisme abat ke 19 di perancismempunyai pola yang paling jelas gambarannya, penulis yang terkenal adalah honore de balzacyang menulis seni roman La comedie humaine (komedi manusia) memberikan gambaran yang sangat rinci mengenai dunia kelas menengah perancis di abat 19. Dan ini menjadi penyambung lidah bagi apa yang di sebut sebagai “realisme kerakyatan” yang memiliki tuntutan bahwa sastra harus memiliki pengamatan maksimal dengan rekaan minimal.

TEORI REALISME SOSIAL
  Realisme sosial adalah salah satu paham/aliran sastra yang cukup kuat mendominasi di Eropa Barat khususnya ketika rezim sosialis menempati posisi kekuasaan. Aliran ini cukup mempunyai konstribusi yang besar terhadap kasanah sastra dunia. Namun hingga kini banyak orang yang kurang suka membicarakannya.Hal ini punya alasan yang cukup kuat mengingat kebanyakan para sastrawan masih banyak yang berpaham netral dan anti partisan terhadap segala macam bentuk kekuasaan. Lebih-lebih ketika realisme sosialis pernah mengalami sejarah buruk ketika berada dalam genggaman kekuasaan Stalin di rusia selama beberapa dekade.
Kritik sastra marxis berdasarkan filsafat Marx, khususnya teorinya mengenai materialisme. Menurut marx  susunan masyarakat dalam bidang ekonomi, yang dinamakan bangunan bawah, menentukan kehidupan sosial,politik, intelektual dan kultural bangunan atas. Sejarah di pandangnya sebagai suatu perkembangan terus menerus, daya-daya kekuatan di dalam kenyataan secara progresif  mereka dan ini semua menuju masyarakat yang ideal tanpa kelas. Evolusi yang diharapkan tidak berjalan dengan halus tetapi berjalan tersendat sendat hubungan-hubungan ekonomi menimbulkan berbagai kelas yang saling bermusuhan, ini mengakibatkan pertentangan  kelas yang ahirnya di menangkan oleh kelas tertentu. Dalam teori ekonominya marx menerangkan bagaimana pertentangan antara kaum borjuis dan proletar bisa membawa revolusi yang bisa  menghancurkan sistem kapitalis, kaum proletar  yang jaya akan melaksanakan masyaraka tanpa kelas. Perubahan dalam bangunan bawah  mengakibatkan perubahan dalam bagunan atas. Bagi mark,sastra sama dengan gejala-gejala kebudayaan lainnya mencerminkan hubungan ekonomi, sebuah karya sastra hanya dapat di mengerti kalau itu dikaitkan dengan hubungan-hubungan tersebut.
Lenin dapat di pandang sebagai peletak dasar bagi kritik sastra marxis. Ia menulis lebih banyak daripada marxis tentang masalah-masalah teoritis yang berkaitan dengan sastra dan mengembangkan suatu misi yang jelas tentang sastra. Ini di sebabkan karena  ia berpendapat bahwa sastra (dan seni pada umumnya) merupakan suatu sarana penting dalam perjuangan melawan kapitalisme.dari marx, lenin meminjam pandangan “bahwa sastra mencerminkan kenyataan sebagai ungkapan pertentangan kelas”.
Tetapi sastra  tidak hanya mencerminkan kenyataan, sastra dapat dan harus turut membangun masyarakat, seperti halnya pendapat jan van luxembrug miekel bal dan wiliam g weststeijn dalam bukunya (pengantar ilmu sastra: 25) yang menyatakan “ sastra hendaknya tidak hanya membuka mata orang bagi kekurangan-kekurangan di dalam tata masyarakat ,tetapi juga menunjukkan jalan keluar”.
Dalam sebuah karangan yang di tulis pada tahun 1905 lenin memaparkan apa yang di harapkan dari sastra. Tulisan itu berjudul “organisasi partai dan sastra partai”, dalam karangan tersebut lenin meneropong tulisanya dari sudut pandang jurnalis dan publistik. Dalam karangan itu lenin mengutarakan pengertian mengenai “ikatan partai” yang menerapkan tiga sarat bagi sastra:
1.       Sastra harus mempunyai suatu fungsi sosial.
2.      Sastra harus mengabdi kepada rakyat banyak.
3.      Sastra harus merupakan suatu bagian dalam kegiatanpartai komunis.

Degan demikian sastra di jadikan suatu bagian didalam mekanisme sosial-demokratik, yang di gerakkan oleh gugus depan segenap kelompok ”kelas” kaum pekerja yang sadar akan politik, sebuan unsur organik dan sebuah senjata ampuh di dalam perjuangan sosialisti.

            Selama tahun-tahun pertama semenjak revolusi, pengarang di uni soviet masih agak bebas dalam hal karang mengaraang, partai di sibukkan oleh hal-hal yang lebih penting(keadaan ekonomi yang gawat serta perang saudara), apalagi trostski dan lunattsjarski tidak mentah-mentah menolak gagasan bahwa seorang seniman harus di berikan sekedar kebebasan artistik.namun lambat laut partai makin mengengam dunia kebudayaan, semua meddia masa langsung di awasi oleh partai dan para pengarang dihimpun dalam satu organisasi yang di pimpin oleh partai pula. Pada kongres pertama himpunan pengarang pada tahun 1934diletakkan dasar bagi “realisme sosial” yang sampai sekarang ini melandasi pandangan resmi mengenai kesenian di uni soviet.
            Aliran realisme sosialis,sesuai dengan pandangan lenin,mengandaikan adanya suatu hubungan dialektik antara sastra dan kenyataan. Dari satu pihak kenyataan tercermin dalam sastra sehingga sastra di anggap menyajikan suatu tafsiran yang tepat mengenai hubungan-hubungan didalam masyarakat(realisme), di lain pihak sastra juga mempengaruhi kenyataan sehingga mempunyai tugas mendampingi partai komunis dalam perjuangan membagun suatu masyarakat baru yang lebih baik (sosialistik), jan van luxembrug mikel bal dan willem g weststeijin (1982:26) berpendapat “realisme sosialis menuntut dari para pengarang agar melukiskan kenyataan dalam perkembangan revolusionernya, selaras dengan kebenaran dan fakta sejarah. Selain itu pelukisan yang barsifat artistik itu hendaknya di gabungkan dengan tugas mendidik kaum buruh sesuai dengan semangat komunis”.
Realisme sosialis di indonesia
Realisme sosialis –dan sastra lain yang berbau politis dan memihak—kemudian sering direduksi sedemikian rupa sehingga tidak lagi dipandang sebagai gagasan kreativitas yang humanis. Hal ini tidak terjadi di Eropa saja melainkan di Indonesiadimana para seniman realisme sosialis seperti Pramudya Ananta Toer dkk memang pernah terkait dengan Partai Komunis Indonesia (PKI) yang punya masalah historis. Agar reduksi yang menjerus pada sikap subyektifisme/sentimen berlebihan ini bisa jernih maka perlulah kiranya di telaah lebih mendasar dan ilmiah tanpa perlu berprasangka buruk terhadap aliran ini.
Seperti halnya ajaran pemikiran lain, aliran realisme ini mempunyai persoalan historis dalam konsepsi dasarnya. Ia menjadi antitesis dari paham idealisme yang hanya cukup mendasarkan diri pada persoalan idea. Dalam tataran filosofis, Obyek yang di pandang paham idealisme hanya ada dalam akal budi maka sebaliknya kaum realis berpandangan bahwa obyek presepsi inderawi dan pengertian sungguh-sungguh ada ada terlepas dari indra dan budi yang menangkapnya.
Alasan yang paling menonjol dalam hal ini adalah bahwasanya obyek itu dapat diselidiki, dianalisis, dipelajari lewat ilmu, dan ditemukan hakikatnya lewat filsafat. Secara bahasa realis ini bertitik tolak dari kata latin yang mempunyai arti sungguh-sungguh, nyata benar adanya. Sebagai aliran etis realisme ini mengakui adanya faktor etis yang dialami, entah itu berkaitan dengan hidup, perilaku, dan perbuatan konkret, terlepas dari indra dan budi yang mengerti (faiz mansur). Selaras dengan pendirianya tentang yang ada, dalam prinsip etis dan mengejar cita-cita etis, realisme menyesuaikan dengan hidup nyata. Artinya ia menolak paham yang hanya berpegang pada prinsip etis dengan alasan tidak mungkin dilaksanakan (tidak realistis) Dalam setiap melaksanakan prinsip dan cita-cita etisnya paham ini selalu memperhitungkan semua faktor; situasi, kondisi, keadaan, ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya dan orang-orang yang terlibat.
Namun setidaknya sastra realisme rosialis pernah punya rumusan yang cukup valid. Apa yang di ungkapkan oleh Fokkema D.W dan Elrud Kunne-Ilsch dalam buku Teori Sastra Abad Keduapuluh (Gramedia;1998) setidaknya mengambarkan rumusan konkret tersebut. Mereka berdua menuliskan kriteria dalam tiga dasar pokok: 1) kriteria penafsiran determinisme ekonomi yang menyangkut pertanyaan apakah karya sastra mengambarkan perkembangan-perkembangan lebih maju atau lebih mundur berdasarkan
ekonomi;2)kriteria probabilitas kebenaran yang sepenuhnya sesuai dengan kode sastra pada zamannya; dan 3) kriteria (selera) pribadi, misalnya tulisan-tulisan Aeschylus, Shakespeare dan Goethe, yang termasuk daftar kesustraan pada
zamannya. Secara general realisme sosialis menginginkan keharmonisan antara kenyataan dan idea. Kenyataan harus di nyatakan sebagai mana adanya, menurut proposisi aslinya, sementara idea harus di sandarkan pada konteks kondisi obyektif. Hal yang paling prinsipil dari semuanya adalah semangat ideologi terhadap perjuangan klas bagi kaum tertindas (proletariat). Kenyataan ini dapat dilihat dari berbagai pemikiran realisme sosialis Mulai dari Maxim Gorki, Lu Hsun, George Lukacs, bahkan sampai Pramudya Ananta Toer.
Karena persoalan komitmen dan keberpihakan inilah yang kemudian sering dikatakan oleh berbagai macam sastrawan idealis-borjuistik dengan klaim bahwa sastra marxis lebih mengutamakan visi politik (kepentinganya) dari pada mengutamakan netralitas dan kebebasan ekspresinya. Realisme sosialis yang paling dominan memang tidak mengelak dari persoalan ini. Aturan garis ini memang terkesan menjurus dalam satu format ideologi kepentingan partai.
Pramudya ananta toer dan menurut kubu Lekra, meletakkan “kenyataan dan kebenaran” yang lahir dari “pertentangan-pertentangan yang berlaku di dalam masyarakat maupun di dalam hati manusia” sebagai dasar material kesenian. Dari situ, akan terlihat sejumlah gerak maju dan “hari depan” manusia. Dengan demikian, berlaku kesimpulan bahwa “seni untuk rakyat”.
Di Indonesia, realisme sosialis dikembangkan oleh Lekra atas dasar keberpihakan kepada rakyat daripada atas logika marxisme. Kedekatan realisme sosialis dengan marxisme terletak pada semangat, kesamaan perjuangan, dan pilihan hidup. Tidak terbukti bahwa hubungan keduanya merupakan hubungan organisatoris meskipun banyak anggota Lekra juga anggota PKI (h.20 buku “Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis“).
            Refrensi
jan van luxembrug, miekel bal dan willem G. Weststeijn, 1982,pengantar ilmu sastra.
jan van luxembrug, miekel bal dan willem G. Weststeijn,1987, tentang sastra

0 komentar:

Poskan Komentar