Mimesis yang Bukan Sekadar Meniru

Posted by joko yulianto Senin, 14 November 2011 0 komentar

Mimesis yang Bukan Sekadar Meniru
Angga Priandi Pasma (117835066)
Septi Rizki (117835076)

Pendahuluan
Semenjak orang mempelajari seni, seni dianggap sebagai cermin dari kenyataan. Sejauh apa seni itu bisa menggambarkan kenyataan. Semakin mirip dengan kenyataan, seni dianggap semakin baik. Inilah yang disebut dengan penafsiran mimetik.
Mimesis berasal dari kata mimicry yang berarti tindakan menirukan. Mimesis (KBBI, 2008: 915) berarti tiruan perilaku atau peristiwa antarmanusia. Teori ini pertama diutarakan oleh Plato (428—348 SM) dan Aristoteles (384—322 SM) dan dari abad ke abad sangat memengaruhi teori-teori mengenai seni dan sastra di Eropa (Luxemberg, 1986: 15).
Plato
Pada awal perkembangannya, seni tidak terlalu digemari di Yunani. Bahkan, seni dianggap sebagai suatu yang tidak penting. Ini terkait konsep yang dijelaskan oleh Plato tentang seni. Plato menganggap bahwa seni adalah sebuah tiruan dari kenyataan. Pandangan Plato mengenai mimesis sangat dipengaruhi oleh pandangannya mengenai konsep Ide-ide yang kemudian memengaruhi bagaimana pandangannya mengenai seni.
Plato menganggap Ide yang dimiliki manusia terhadap suatu hal merupakan sesuatu yang sempurna dan tidak dapat berubah. Ide merupakan dunia idel yang terdapat pada manusia. Ide oleh manusia hanya dapat diketahui melalui rasio, tidak mungkin untuk dilihat atau disentuh dengan pancaindra. Ide bagi Plato adalah hal yang tetap atau tidak dapat berubah,  misalnya ide mengenai bentuk segitiga, ia hanya satu, tetapi dapat ditransformasikan dalam bentuk segitiga yang terbuat dari kayu dengan jumlah lebih dari satu. Ide mengenai segitiga tersebut tidak dapat berubah, tetapi segitiga yang terbuat dari kayu bisa berubah (Bertens, 1979: 13).
Bila seorang tukang membuat lemari, ia menjiplak lemari seperti yang terdapat dalam sebuah ide. Tapi, seorang tukang dianggap lebih baik daripada seniman. Tukang dapat membuat jiplakan itu yang mendekati kebenaran sehingga dapat disentuh oleh pancaindra. Sedangkan, seniman membuat seni yang menjiplak kenyataan dan dituangkan lagi dalam kesenian tersebut. Hal itu berarti seniman menjiplak dari suatu jiplakan (Luxemberg, 1986: 16).
Menurut Plato mimesis hanya terikat pada ide pendekatan. Tidak pernah menghasilkan tiruan sungguhan. Mimesis yang dilakukan oleh seniman dan sastrawan tidak mungkin mengacu secara langsung terhadap dunia ideal (Teew, 1984: 220). Hal itu disebabkan pandangan Plato bahwa seni dan sastra hanya mengacu kepada sesuatu yang ada secara faktual (kenyataan) seperti yang telah disebutkan di muka. Bahkan seperti yang telah dijelaskan di muka, Plato mengatakan bila seni hanya menimbulkan nafsu karena cenderung menghimbau emosi, bukan rasio (Teew. 1984:221).
Berdasarkan pandangan Plato mengenai konsep tersebut, Plato sangat memandang rendah seniman dan penyair dalam bukunya yang berjudul Republic bagian kesepuluh. Bahkan ia mengusir seniman dan sastrawan dari negerinya. Karena menganggap seniman dan sastrawan tidak berguna bagi Athena, mereka dianggap hanya akan meninggikan nafsu dan emosi saja. Pandangan tersebut muncul karena mimesis yang dilakukan oleh seniman dan sastrawan hanya akan menghasilkan khayalan tentang kenyataan yang tetap jauh dari ‘kebenaran’. Satu-satunya bentuk puisi yang boleh dilaksanakan ialah puisi yang berisikan pujian terhadap para dewa dan tokoh yang berguna bagi umat manusia; puisi serupa itu mengarahkan manusia kepada aspek-aspek positif di dalam tata negara (Luxemberg, 1986: 16).
Meskipun ucapan Plato tersebut berdasarkan konteks bahwa dia ingin membuat sebuah negara yang ideal, penolakan Plato terhadap seni sangat mengherankan. Plato tidak melihat kenyataan bahwa seorang seniman, bila seniman melukiskan sesuatu, sekaligus juga mencipta sesuatu (Luxemberg, 1986: 16).
Aristoteles
Aristoteles adalah seorang pelopor penentangan pandangan Plato tentang mimesis, yang berarti juga menentang pandangan rendah Plato terhadap seni. Apabila Plato beranggapan bahwa seni hanya merendahkan manusia karena menghimbau nafsu dan emosi, Aristoteles justru menganggap seni sebagai sesuatu yang bisa meninggikan akal budi. Teew (1984: 221) mengatakan bila Aristoteles memandang seni sebagai katharsis, penyucian terhadap jiwa. Karya seni oleh Aristoteles dianggap menimbulkan kekhawatiran dan rasa kasihan yang dapat membebaskan dari nafsu rendah penikmatnya.
Aristoteles menganggap seniman dan sastrawan yang melakukan mimesis tidak semata-mata menjiplak kenyataan, melainkan sebuah proses kreatif untuk menghasilkan kebaruan. Seniman dan sastrawan menghasilkan suatu bentuk baru dari kenyataan indrawi yang diperolehnya. Dalam bukunya yang berjudul Poetica (Luxemberg,1986: 17), Aristoteles mengemukakakan bahwa sastra bukan copy (sebagaimana uraian Plato) melainkan suatu ungkapan mengenai “universalia” (konsep-konsep umum). Dari kenyataan yang menampakkan diri kacau balau seorang seniman atau penyair memilih beberapa unsur untuk kemudian diciptakan kembali menjadi ‘kodrat manusia yang abadi’, kebenaran yang universal. Itulah yang membuat Aristoteles dengan keras berpendapat bahwa seniman dan sastrawan jauh lebih tingi dari tukang kayu dan tukang-tukang lainnya.
Pandangan positif Aristoteles terhadap seni dan mimesis dipengaruhi oleh pemikirannya terhadap ‘ada’ dan ide-ide. Aristoteles menganggap ide-ide manusia bukan sebagai kenyataan. Jika Plato beranggapan bahwa hanya idelah yang tidak dapat berubah, Aristoteles justru mengatakan bahwa yang tidak dapat berubah adalah benda-benda jasmani itu sendiri (Bertens, 1979: 13).
Perkembangan Mimesis
Mimesis yang menjadi pandangan Plato dan Aristoteles saat ini telah ditransformasikan ke dalam berbagai bentuk teori estetika (filsafat keindahan) dengan berbagai pengembangan di dalamnya. Luxemberg (1986: 18) menyebutkan bila pada zaman Renaissaince pandangan Plato dan Aristoles mengenai mimesis saat ini telah dipengaruhi oleh pandangan Plotinis, seorang filsuf Yunani pada abad ke-3 Masehi. Mimesis tidak lagi diartikan suatu pencerminan tentang kenyataan indrawi, tetapi merupakan pencerminan langsung terhadap Idea. Dari pandangan ini dapat diasumsikan bahwa susunan kata dalam teks sastra tidak meng-copy secara dangkal dari kenyataan indrawi yang diterima penyair, tetapi mencerminkan kenyataan hakiki yang lebih luhur. Melalui pencerminan tersebut kenyataan indrawi dapat disentuh  dengan dimensi lain yang lebih luhur.
Menurut Plato, dunia ini dibagi tiga. Dunia ide, dunia jasmani, dan karya seni(Bertens, 1979: 14). Dunia ide adalah sumber dari dari segala bentuk/ide (sejati).
Dunia yang kita tinggali sekarang ini adalah dunia jasmani. Dunia jasmani adalah imitasi dari dunia ide. Maksudnya adalah semua yang kita lihat, semua yang kita genggam, sesuatu yang menurut kita indah, jelek, atau lainnya yang ada di dunia jasmani ini adalah tiruan dari bentuk sejati yang berada di dunia ide
Sebagai contoh, sebuah meja. Sebuah meja yang kita lihat didunia ini bukan meja sejati. Para pembuat meja adalah bukan pencipta meja. Karena konsep tentang ke-meja-an atau meja yang sejati itu ada di dunia ide. Kenapa kita bisa tahu bentuk meja itu harus seperti apa? Karena menurut Plato, sebelum roh kita turun dari dunia ide dan menyatu dengan tubuh kita di dunia jasmani ini, roh kita diperkenalkan dulu dengan banyak konsep, salah satu contohnya adalah konsep ke-meja-an. Dengan adanya pemikiran ini berarti di dunia jasmani tidak ada yang namanya orisinalitas.
karya seni itu 2 (dua) langkah menjauhi dari kenyataan atau bentuk sejati. Kenapa? Karena lukisan bunga itu adalah imitasi/tiruan dari bunga yang ada di dunia jasmani ini. Sedangkan bunga yang ada di dunia ini adalah juga sudah imitasi dari bentuk yang sejati. Yaitu konsep ke-bunga-an. Jadi lukisan bunga itu adalah tiruan dari tiruan dari yang sejati.
Tetapi beda lagi dengan muridnya yang bernama Aristoteles. Menurut Aristoteles, seni bukan hanya sekedar tiruan dari alam. Tetapi juga melibatkan perasaan dari dalam jiwa. Dalam buku Aristoteles yang berjudul Poetic, semua jenis sajak (epic poet, tragedy, comedy), ataupun permainan flute sekalipun adalah sebuah imitasi. Dan ia membagi imitasi itu menjadi 3 (tiga), yaitu means, objeck, dan manner(Bertens, 1979: 15).
Means yang berarti cara. Dalam hal ini adalah irama, language (dialog, suara orang), dan harmoni. Dari ketiga itu seni bisa berdiri, dengan cara sendiri-sendiri ataupun kombinasi dari ketiganya. Aristoteles mencontohkan, seni sajak itu hanya imitasi dari language, tidak melibatkan harmoni.
Object maksudnya adalah meniru dari sifat-sifat manusia (karakter). Aristoteles berpendapat karakter manusia secara umum ada dua. Virtue and vice (kebaikan dan keburukan).
Mannermaksudnya adalah cara penyajian/menampilkan dari suatu karakter. Seorang pemain atau aktor berakting/berpura-pura menjadi karakter yang ia perankan dalam suatu cerita, baik atau jahat. Seorang aktor melakukan, merepresentasi imitasi terhadap sifat/karakter dari kehidupan nyata (http://beatroom.blog.friendster.com/2005/07/film-imitasi-kehidupan diakses 8-10-2011).
Konsep mimesis ala Aristoteles sering ditafsirkan secara sempit (Luxemberg, 1986: 18). Mimesis menampilkan yang universal dalam perbuatan manusia lalu ditafsirkan seolah-olah seorang pengarang menciptakan tipe-tipe sosial yang khas bagi suatu tempat atau kurun waktu tertentu. Ini terjadi pada zaman Renaissance. Pada zaman tersebut “imitasi” terhadap suatu gaya hidup tertentu dikaitkan dengan suatu gaya sastra tertentu (Luxemberg, 1986: 18). Misalnya, sebuah karya sastra tragedi dituntut ditampilkannya tokoh-tokoh berkedudukan tinggi di dalam masyarakat, sedangkan komedi orang-orang dari rakyat jelata (Luxemberg, 1986: 18).
Konsep mimesis zaman reanaissance tersebut kemudian tergeser pada zaman romantik. Aliran romantik menurut Luxemberg (1986:18) justru memperhatikan kembali yang aneh-aneh, tidak riil dan tidak masuk akal. Apakah dalam sebuah karya seni dan sastra mencerminkan kembali realitas indrawi tidak diutamakan lagi. Tetapi, pada ilmu sastra modern, teori aristoteles mengenai mimesis diperhatikan kembali. Sastra dan seni tidak hanya menciptakan kembali kenyataan indrawi, tetapi juga menciptakan bagan (modul) mengenai kenyataan. Kaum romantik lebih memperhatikan sesuatu dibalik mimesis, misalnya persoalan plot dalam drama. Plot atau alur drama bukan suatu urutan peristiwa saja, melainkan juga dipandang sebagai kesatuan organik dan karena itulah drama memaparkan suatu pengertian mengenai perbuatan-perbuatan manusia.
Berbagai teori mimesis itu mempunyai satu unsur yang sama, yaitu bahwa perhatian diarahkan kepada hubungan antara gambar dan apa yang digambarkan. Tolok ukur estetik pertama adalah sejauh mana gambar itu sesuai dengan kenyataan, apakah kenyataan itu dunia ide, dunia yang universal atau dunia yang khas, itu tidak begitu penting (Luxemberg, 1986: 19).
Contoh Analisis
Tiruan Kenyataan dalam Cerpen Aku.... Karya Yanusa Nugroho
“Alamat rumah?”
“Kampung Sawah, RT 03 RW 11, Nomor 43.”
“Di sini ditulis 45?”
“Salah ketik, Pak.”
“siapa yang ngetik?”
“Kelurahan, Pak.”
“Kenapa tidak protes?”
“Sudah.”
“Buktinya masih salah.”
“Kelurahan, kan, selalu begitu.”
“Jangan menyalahkan orang lain, kalau kamu prptes kan diperbaiki.”
“Sudah, Pak. Tapi tetap saja salah.”
“Kamu jangan membantah terus!”
“Tidak, Pak. Itu kenyataan, Pak.”
“Kamu mau menang sendiri?”
“Tidak, Pak.”
“Kok, kamu ngotot?”
“....”
Dari cuplikan dialog di atas, kita dapat melihat kenyataan bahwa di tingkat Kelurahan masih banyak kesalahan yang disengaja oleh pegawai Kelurahan. Meskipun tokoh tersebut sudah memprotes, tapi tetap saja tidak diperbaiki. Meskipun demikaian, penulis mencoba menggambarkan kenyataan yang lain, yaitu kenyataan bahwa petugas introgasi melakukan itu dengan kasar dan mau menang sendiri. Hal bahwa petugas itu selalu benar tampak jelas pada masa orde baru. Karena menurut Luxemburg (1986: 17) bahwa sastra dan seni tidak hanya menciptakan kembali kenyataan indrawi, tetapi juga menciptakan bagan (modul) mengenai kenyataan.
Simpulan
Konsep mimesis ala Plato adalah bahwa seni (sastra) itu menjiplak dari jiplakan sehingga sastrawan atau seniman lebih buruk dibandingkan tukang yang membuat barang-barang yang dapat disentuh oleh pancaindra.
Konsep mimesis ala Aristoteles adalah bahwa seni (sastra) bukan hanya meniru, tetapi lebih merupakan katarsis (penyucian) terhadap hasil pemikiran. Sastrawan dan seniman disamping meniru dari kenyataan, tetapi mereka juga telah menciptakan sesuatu yang lain berdasarkan hasil penyucian pikiran tersebut.


Kepustakaan
Bertens, K. 1979. Ringkasan Sejarah Filsafat. Yogyakarta: Kanisius.
Departemen Pendidikan Nasional. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Luxemberg, Jan Van dkk. 1986. Pengantar Ilmu Sastra. Jakarta: Gramedia (judul asli Inleiding in de literatuur Wetenschap. 1982. Muiderberg: Dikck Countinho B.V Vitgever. Diterjemahkan oleh Dick Hartoko).
Teew, A. 1984. Sastra dan Ilmu Sastra. Jakarta: Dunia Pustaka Jaya.

0 komentar:

Poskan Komentar